Menunggu Kereta Malam (eh.. Senja)
7:28 PM
Tak terasa sudah dua tahun lamanya. Dan saat ini saya sedang duduk di tempat yang sama, minum cokelat panas yang serupa, dan menunggu sesuatu yang tidak berbeda.
Suatu Sabtu pagi di pertengahan bulan Juni 2012, saya pergi ke Depok menggunakan kereta comuter line setelah sehari sebelumnya juga naik kereta serupa pulang dari Bogor. Malamnya saya harus ke stasiun Pasar Senen untuk naik kereta menuju Jogja. Bisa dibilang hari-hari yang akrab dengan kereta :) Saya pulang ke Jogja dengan tujuan untuk melakukan ujian thesis S2 saya di Fakultas Peternakan UGM. Jadi ini kepulangan yang sangat penting buat saya. Sebelum hari H ujian, saya harus sudah sampai untuk melakukan persiapan dan membenahi materi presentasi.
Sorenya saya ke Semanggi, baru pulang ambil barang-barang lalu ke stasiun. Tergopoh-gopoh sampai stasiun dan langsung lari menuju pintu masuk, karena saya yakini kereta saya masih 10 menit lagi berangkat. Begitu menunjukkan tiket pada petugas, dengan nafas yang masih tersengal-sengal, kemudian saya dibuat lebih sesak nafas ketika Pak Petugas tersebut bilang kalau keretanya baru saja beranjak pergi, suaranya masih terdengar melengking menderu berjalan sepanjang stasiun.
Saya langsung lemas, melihat tiket yang di jadwalnya tertera 18.35 bukan 18.55 seperti yang saya ingat. Tak mau dirundung penyesalan berlarut, saya langsung ke loket untuk membeli tiket kereta keberangkatan selanjutnya. Beruntung masih ada dua kereta yang tersedia di jam yang berbeda. Saya memesan satu. Kemudian membuka tas ransel untuk mengambil dompet. Saya kembali lemas, tertegun, dan bingung. Dompet saya tidak ada! Dan saya tidak membawa uang, hanya beberapa recehan terselip di kantong celana.
Ssinggg....sekejap saya bingung. Lalu segera mengeluarkan ponsel. Untungnya masih ada pulsa! Saya lalu telpon teman yang tadi mengantar saya ke stasiun dan beruntung dia masih belum pergi jauh. Fiuhh... Thank God!
Saya pun dibelikan tiket. Kami menunggu kereta dan meredakan kepanikan saya saat itu dengan minum cokelat panas.
Saya masih khawatir dengan keberadaan dompet saya. Apakah jatuh, dicopet, atau ketinggalan di kos. Uang dan ATM sama sekali tak ada karena semuanya tersimpan di dompet. Uang cash teman saya juga habis buat bayar tiket saya. Jadilah salah satu atmnya saya bawa, untuk jaga-jaga.
Tadinya mau ambil uang, tapi ternyata si kereta Senja Utama Jogja sudah menyala mesinnya, dan saya harus sekali lagi terengah-engah lari masuk kereta. Hampir saja ketinggalan lagi. Dan selama perjalanan sampai Jogja, saya tidak bawa uang cash. Ehh...hanya Rp 5.000,- yang saya temukan terselip di dompet Oriflame ketika sudah turun di stasiun Tugu.
Hmm... What a day!
Tapi semuanya terbayar dengan kelulusan saya di ujian dengan nilai A! Dan dompet saya ternyata tertinggal di kos. Alhamdulillah ^^
Pelajaran buat saya agar mempersiapkan apapun dengan baik!
Ryu
*Yang sedang menunggu di Dunkin Donut Stasiun Pasar Senen
Suatu Sabtu pagi di pertengahan bulan Juni 2012, saya pergi ke Depok menggunakan kereta comuter line setelah sehari sebelumnya juga naik kereta serupa pulang dari Bogor. Malamnya saya harus ke stasiun Pasar Senen untuk naik kereta menuju Jogja. Bisa dibilang hari-hari yang akrab dengan kereta :) Saya pulang ke Jogja dengan tujuan untuk melakukan ujian thesis S2 saya di Fakultas Peternakan UGM. Jadi ini kepulangan yang sangat penting buat saya. Sebelum hari H ujian, saya harus sudah sampai untuk melakukan persiapan dan membenahi materi presentasi.
Sorenya saya ke Semanggi, baru pulang ambil barang-barang lalu ke stasiun. Tergopoh-gopoh sampai stasiun dan langsung lari menuju pintu masuk, karena saya yakini kereta saya masih 10 menit lagi berangkat. Begitu menunjukkan tiket pada petugas, dengan nafas yang masih tersengal-sengal, kemudian saya dibuat lebih sesak nafas ketika Pak Petugas tersebut bilang kalau keretanya baru saja beranjak pergi, suaranya masih terdengar melengking menderu berjalan sepanjang stasiun.
Saya langsung lemas, melihat tiket yang di jadwalnya tertera 18.35 bukan 18.55 seperti yang saya ingat. Tak mau dirundung penyesalan berlarut, saya langsung ke loket untuk membeli tiket kereta keberangkatan selanjutnya. Beruntung masih ada dua kereta yang tersedia di jam yang berbeda. Saya memesan satu. Kemudian membuka tas ransel untuk mengambil dompet. Saya kembali lemas, tertegun, dan bingung. Dompet saya tidak ada! Dan saya tidak membawa uang, hanya beberapa recehan terselip di kantong celana.
Ssinggg....sekejap saya bingung. Lalu segera mengeluarkan ponsel. Untungnya masih ada pulsa! Saya lalu telpon teman yang tadi mengantar saya ke stasiun dan beruntung dia masih belum pergi jauh. Fiuhh... Thank God!
Saya pun dibelikan tiket. Kami menunggu kereta dan meredakan kepanikan saya saat itu dengan minum cokelat panas.
Saya masih khawatir dengan keberadaan dompet saya. Apakah jatuh, dicopet, atau ketinggalan di kos. Uang dan ATM sama sekali tak ada karena semuanya tersimpan di dompet. Uang cash teman saya juga habis buat bayar tiket saya. Jadilah salah satu atmnya saya bawa, untuk jaga-jaga.
Tadinya mau ambil uang, tapi ternyata si kereta Senja Utama Jogja sudah menyala mesinnya, dan saya harus sekali lagi terengah-engah lari masuk kereta. Hampir saja ketinggalan lagi. Dan selama perjalanan sampai Jogja, saya tidak bawa uang cash. Ehh...hanya Rp 5.000,- yang saya temukan terselip di dompet Oriflame ketika sudah turun di stasiun Tugu.
Hmm... What a day!
Tapi semuanya terbayar dengan kelulusan saya di ujian dengan nilai A! Dan dompet saya ternyata tertinggal di kos. Alhamdulillah ^^
Pelajaran buat saya agar mempersiapkan apapun dengan baik!
Ryu
*Yang sedang menunggu di Dunkin Donut Stasiun Pasar Senen
tuh kaaan...!??
ReplyDelete* suami terbaik adalah pendaki gunung,,,,