Tiga Detik
10:56 AM
Aku
hanya bisa melihat punggungnya berlalu di depan mataku untuk beberapa saat
sebelum dia bersiap kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ingin sekali kupeluk dia
sebentar saja. Sudah kutahan untuk tak meminta padanya, tapi
semakin kutahan, semakin tak tertahan air mata yang mengalir dari ujung mataku.
“Rei…” panggilku sambil berlari mendekatinya yang tengah membuka pintu Si Biru, mobilnya.
“Ya?” jawabnya sambil menoleh ke arahku.
“Boleh aku peluk kamu sebentar saja?”
“Eh?” tanyanya heran.
“Sebentar saja, tiga detik.” Janjiku.
Rei
pun kemudian tersenyum tipis dan membiarkanku memeluknya sebentar.
Tiga
detik.
Cukup
bagiku untuk membasahi bajunya dengan cucuran air mataku.
Cukup
bagiku untuk meluapkan rasa rinduku.
Cukup
bagiku melepaskan sedikit dari setumpuk rasa bersalahku.
Cukup
bagiku untuk meyakinkan bahwa aku tetap menyayanginya.
Cukup
bagiku untuk memastikan bahwa dia akan baik-baik saja.
“Selamat ulang tahun, Rei. Kamu baik-baik ya..!” ucapku sambil melepaskan pelukanku dari tubuh bidangnya tepat setelah tiga detik.
“Iya, kamu juga ya!” diiringi senyuman yang tersungging dari mulutnya.
Dia menatapku dengan tatapan yang sama, masih seperti dulu. Meski aku tahu betapa
berat baginya tersenyum menatapku lagi setelah sekian lama. Terluka atas kepergianku yang semena-mena darinya.
Dia
pun berlalu.
Tak
pernah mudah membendung air mataku ketika mengingatnya, apalagi bertatap muka dengannya.
Aku bersalah padanya. Meninggalkannya saat dia begitu membutuhkan
kehadiranku. Namun dia tetap
menyayangiku, mempedulikanku, dan melindungiku. Meski kami tak mungkin lagi
untuk bersatu.
Tiga
detik. Tak mungkin menyembuhkan lukanya yang menganga bertahun lamanya.
“Maafkan aku, Rei...”
Aku
pun kemudian berlari, menghampiri laki-laki yang dari tadi telah menantiku di
ujung jalan. Menanti dengan senyumnya, mencoba meredakan tangisku yang tak
tertahan.
*) terdorong menulis cerpen setelah membaca karya-karya Dee