My Diary.
to Share my Life Events

Desaku Yang Kucinta

Jalan Kikis

Saya selalu menikmati jalan ini, jalan menuju rumah, tepatnya rumah kakek Saya yang kami sekeluarga tempati sejak dulu. Jalan kecil beraspal, membelah persawahan, dan menjadi pembatas antara Kabupaten Sleman dan Kabupaten Klaten. Jalan ini tidak ramai, hanya beberapa motor melintas sore ini, termasuk Victoria, motor Honda Supra-X merah yang dikendarai Mas Bayu dan Saya membonceng di belakang. 

Gunung Merapi berdiri megah di depan sana, samping kanan dan kiri jalan membentang sawah hijau penuh tanaman padi yang masih belum terlalu lama ditanam, beberapa pohon sengon berjajar ditepi jalan, dan jika menoleh ke belakang (arah selatan) akan terlihat barisan rapi Gunung Kidul yang sedang hijau karena musim hujan. Saya suka pemandangan ini. Udara segar Saya hirup dalam-dalam. Hmm...pulang... setelah 3 bulan Saya tidak pulang ke kampung halaman :)

Sejak dulu Saya mungkin terkesan sedikit "lebay" alias berlebihan dalam menikmati pemandangan di sekitar rumah saya, termasuk jalanan ini. Jalan Kikis. Warga sekitar menyebutnya begitu. Kecuali malam hari, saya biasanya memperlambat laju kendaraan Saya  demi menikmati pemandangan indah ini. Setiap musim berganti-ganti pemandangan, tergantung tanaman apa yang sedang ditanam. Tanaman padi yang masih hijau segar, padi yang telah menguning dan siap panen, onggokan sawah bekas panen, tanaman tembakau, sayuran, dll. 

Banyak tempat yang jauh lebih indah dari desa ini. Tapi daerah ini memberikan keindahan dan kenangan tersendiri bagi Saya. Mungkin banyak orang yang setiap hari melintasinya merasa biasa saja, tidak ada yang istimewa. Padahal, desa ini begitu indah dan damai. Namun, perlahan banyak tumbuh rumah-rumah yang dibangun di areal persawahan tersebut. Lambat laun, kemungkinan besar pemandangan tak kan lagi seindah dulu dan sekarang. Sekarang saja sudah jauh berbeda dari dahulu. 

Selain jalan kikis, tempat favorit Saya yang lain adalah sawah. Sawah kami terletak di tepi barat dusun. Dekat dengan kali Opak, jurang, dan berlatar pemandangan Gunung Merapi. Kalau ke sawah, bukannya membantu Bapak bekerja, Saya lebih sering foto-foto atau sekedar duduk di gubuk menikmati pemandangan dan makanan yang dibawa dari rumah. Damai sekali. 


Sawah Barat Dusun

Awan Sore Hari

Kali Opak pun memberikan tempat yang menarik, apalagi sebelum adanya eruspsi Merapi tahun 2010 lalu. Bebatuan besar yang terbawa lahar dingin membentuk kumpulan bebatuan indah di sepanjang kali. Bendungan Tempur yang dibangun sejak masa penjajahan dulu masih berfungsi dan berdiri kokoh di aliran sungai ini. 

Kali Opak dan Bendungan Tempur, 2009

Bersepeda pagi hari di daerah sekitar desa kami juga sangat menarik. Dulu sebelum pindah Jakarta, sering Saya dan teman-teman bersepeda dan menikmati pemandangan pedesaan yang memukau. 


Gapura Selamat Datang

Terima kasih telah memberikan Saya kehidupan yang menyenangkan. Saya berharap masih bisa memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi desa ini. ^^

Desaku yang kucinta, pujaan hatiku... 
Tempat ayah dan bunda, dan hadai taulanku.. 
Tak mudah kulupakan, tak mudah bercerai... 
Selalu kurindukan, desaku yang permai...


  •  
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Bulan


Tidak dapat bersinar
Tak bisa berpendar

Tak semegah matahari yang mampu memberikan energi bagi alam semesta
Tak seindah bintang yang mampu menghiasi angkasa dengan kilaunya
Tak seelok bumi yang mampu memberikan kehidupan bagi penghuninya
Hanya bisa memantulkan cahaya matahari untuk menunjukkan senyumnya

Berbeda rupa setiap malam menjelma
Kadang purnama, kadang gerhana
Berusaha menampakkan riangnya, membenamkan murungnya
Menghabiskan hidupnya mengelilingi bumi, mejalankan fungsinya 


Riyuni Asih Riyuni Asih Author

G[a]keRs: Sedulur Sak Lawase





Semboyan sedulur sak lawase merupakan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya adalah saudara selamanya. Sedangkan g[a]keRs sendiri merupakan singkatan dari “garis keras”.

Siapa g[a]keRs?

Tidak sekeras nama yang tertera. Nama tersebut entah dulu dari mana asalnya, sepertinya teman-teman cowok yang mulai membentuknya dulu. Dikepalai oleh Presiden Jonilim alias Ismatulllah Salim, g[a]keRs sebenarnya adalah kumpulan teman-teman mahasiswa (saat ini mayoritas telah lulus) Fakultas Peternakan UGM angkatan 2005. Bukan organisasi resmi, tidak ada kartu anggota, tapi kami ada, nyata.

Foto Bersama di Gedung Pusat UGM

Silaturahmi terus terjalin sesama anggota meskipun kini telah terpisah-pisah. Berbeda kota, pulau, bahkan berbeda benua. Bahkan saya sendiri pun tidak menyangka hubungan kekeluargaan kami terjalin begitu dekat sampai saat ini. Sejak kami masih mahasiswa, sampai sekarang telah menempuh jalan masing-masing, komunikasi tetap terjalin kuat. Melalui bbm group, whatsapp group, personal communication antar teman-teman, fb group, twitter, dan juga pertemuan langsung. Meskipun obrolan di grup yang kemudian sering nggak jelas ngalor-ngidul nggak karuan, mulai dari soal makan siang, anak,  lelucon, de el el (hehehe). Seru-seruan, tapi berujung kekeluargaan. Bahkan sampai punya bendera segala ^^ Dan bendera ini telah berkibar di beberapa belahan bumi selain Indonesia :-D Semoga semakin melanglang buana lagi.

Gakers in Australia. Photo by Eko S. Pranoto

Dulu ketika kami semua masih mengenyam pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, kami sering mengadakan kegiatan bersama. Buka puasa bersama, makrab (malam keakraban), main sepak bola ataupun futsal (bagi anak-anak lelaki), bakti sosial, belajar bersama, menjenguk teman yang sakit, Qurban, juga beramai-ramai menghadiri pesta pernikahan anggota, dan lain-lain. Saya juga salut, teman-teman saling membantu dan menyemangati untuk kelulusan teman yang lain ;-) #two tumbs up dehh... d(^.^)b


Makrab

Foto bersama di depan kampus Fapet UGM
Makrab di Kaliurang
Kumpul di bunderan Fapet UGM
Kini, meskipun tidak lagi tergabung dalam satu institusi yang sama, kami masih sering mengadakan kegiatan-kegiatan. Buka puasa ketika ramadhan diadakan di Jogja maupun di area Jabodetabek. Tidak hanya kumpul-kumpul semata, telah berdiri pula Gakers Foundation yang bergerak di bidang sosial. Pembuatan souvenir dimana keuntungan penjualannya masuk Gakers Foundation. Dana sukarela yang terkumpul dari teman-teman dikumpulkan oleh Gakers Foundation yang kemudian disalurkan untuk kepentingan sosial seperti memberikan santunan kepada anak yatim dan dhuafa, berkontribusi dalam taman bacaan, dll.

Gakers Foundation in Action
Thank You for Coming, friends 
Piknik di Candi Plaosan, Prambanan pasca resepsi nikahan Dedem
Nikahan Tutik, Klaten

Nikahan Gema, Sleman

Saya beruntung menjadi salah satu bagian dari mereka. “Orang-orang terpilih”. Wohooo... :D Stiker Gakers yang diberikan oleh teman-teman ketika buka puasa lalu pun saya tempel di pintu kamar kos saya ^^ (biar Gakers-isasi dimana-mana) :D


Semoga seperti semboyan kita, kita bisa bersaudara selamanya. 

Salam sedulur sak lawase, kawans...

Note:
*) photos diambil dari FB Gakers Indonesia dan koleksi pribadi

*)Bagi yang ingin berbagi dan bersedekah bisa disalurkan melalui:
Gakers Foundation 
Bank Syariah Mandiri KCP Departemen Pertanian 
a/n Ismatullah SalimNo. 
Rek: 7033858878

Wisuda
Salah satu buletin Gakers (ada Yuyun Cell juga di sana ^^)


\
  •  
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Pempek Bakar, Lemak Nian!

Mau coba variasi lain pempek?

Coba deh, pempek bakar! Lemak nian! Enak Banget.


Saya mencoba makan pempek bakar ini ketika berkunjung ke Jambi akhir bulan lalu. ENAK. Rasanya sedikit berbeda dengan pempek goreng yang biasa kita temui. Kombinasi rasa tepung dan ikan yang cukup unik, ditambah lagi udang kering dengan saus yang diselipkan ke tengahnya menambah variasi rasanya menjadi lebih unik. Cara makannya sama dengan pempek goreng, yaitu bersama kuah/saus pempek yang asam, pedas, manis. Sluurrppp…..nyummmyyy….. :-D


Pempek Lemak Nian 99. Demikian nama yang terpasang di spanduk warung kaki lima ini. Spanduk terpasang di muka warung sekaligus berperan sebagai pembatas dan beratapkan kain bekas spanduk outdoor printing. Tempatnya memang di pinggir jalan, tidak terlalu menarik, dan terkesan warung kaki lima biasa. Kami pun makan di sini kerena terpaksa pada mulanya, namun ketagihan setelah mencobanya ;-)


Harga yang diberikan sangat terjangkau, Rp 2.500/buah. Selain itu ada juga otak-otak bakar (dibungkus pakai daun pisang) yang dibandrol harga yang sama. Kurang tahu juga tepatnya warung ini buka setiap hari apa, tapi warung ini berjualan pagi sampai sore dan hari Minggu ketika saya ke sana lagi ternyata tutup.

Cobain deh kalo suatu hari berkunjung ke Kota Jambi ;-)

Lokasi:
Pempek Lemak Nian 99
Jl. Gatot Soebroto, Angso Duo Jambi (Depan Hotel Wisata, pas pertigaan)
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Education To Prevent Sexual Abuse Against Women With Disabilities



Indonesian National Commissions for Women defines sexual abuse to women as a violence against women in any act based on gender-based discrimination that result or may result in misery of suffering to women physically, sexually, or psychologically, including threat of such acts, coercion or arbitrary deprivation of liberty, whether occurring in public or in private life.

Women with disabilities are more likely to suffer violence as well as sexual abuse than women without disabilities. Not only adult women, but also children could be victims of sexual harassment. Many irresponsible people used both the chance and the weaknesses of disabled people to do crimes. In many cases, they are often abused by someone they know such as family member, teacher, or neighbor. For example, there is a case that a woman with mental retardation was raped by her neighbor. Another case is reported that a cruel stepfather had raped her disable daughter when his wife was not at home.

One of the anticipations to prevent and protect disabled women from any violence is education. Education including sexual education should be given to disabled women.  Many of them do not have good knowledge about sexuality. Education is very important for them. Yet, their access to education is usually prohibited or restricted. Some people still have traditional view that their daughters with disabilities may not receive a normal education. Many parents feel ashamed to their daughters with special needs then they ignore to give their children a normal education. When parents have no attention to their children, the encouragement to obtain good education is non-exist.

The family should be conscious of the necessary of both formal and informal education for their family member with disabilities. Disabled women should be taught about sexual education, social life, science, as well as religion. They need to have knowledge to survive and become independent in their life, so they can prevent themselves from any sexual abuses and also violence.
  •  
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

The Influence of Mass Media


The evolution of the mass media has an enormous influence in forming people’s mind. I believe to some extent, that the development of mass media has converted the society’s thought in many sectors.
               
First of all, Mass media is the greatest resource of knowledge for its users. For example, according to recent survey, 80% of college students use mass media such as newspaper and internet as their reference when they are looking for supporting data. 

Furthermore, Mass media has the ability to change people’s paradigm. To illustrate this point, we can make a comparison between urban and remote area’s residences when facing presidential election. In urban area, where the information about all candidates are easy to find at mass media, urban people can make an analysis over candidate’s programs and at the end they are able to choose the best one. However, because of the limitation of access of information, people in the remote area will make their political decision based on like or dislike factor to the candidate and the party.

Yet, since mass media can be easily accessed by children, mass media has a potential to influence children’s behavior in negative way. Many television programs show violence that can be worst figure to kids. Children may duplicate the action of their idol, even though that is crime.

Also, People tend to be more consumptive due to mass media’s advertising programs. To illustrate this point, people can be provoked by commercial activities to buy many things such as fashion, gadget, and food, although sometime that’s not necessary to buy.

In conclusion, it is clear that the mass media has substantial effect to people’s opinion. The users of mass media should aware and careful in absorb the information so that they can use the knowledge wisely.
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Sembarangan Buang Sampah, Kontribusi Mencemari Negara!

Suatu pagi di Ibukota...

Kemarin pagi saya agak terlambat masuk kantor. Seperti biasa saya naik angkot menuju kantor, karena sudah agak siang jadi kondisi di dalam angkot agak lengang, yang biasanya 4-6 (posisi duduk) kali ini hanya 3-2. Saya duduk di dekat pintu karena biar dekat dengan aliran udara dan mudah untuk keluar. Sampai di tengah perjalanan, ada seorang wanita muda masuk sambil membawa satu bungkus plastik jajanan (nampaknya empek-empek siap makan berikut sausnya). Si Mbak ini duduk di depan saya, sambil kemudian menikmati makanannya. Saya menghadap agak serong, sehingga tatapan saya ke arah depan angkot. Tiba-tiba "whussss...." ada benda melayang tepat di depan muka saya melaju ke arah pintu. Saya kaget. Saya amati sekitar, ternyata si Mbak ini membuang bungkus bekas jajanannya ke jalan raya begitu saja dari dalam angkot.

Saya kemudian amati benar-benar si Mbak ini (mungkin dia risih saya sering lihatin hehe). Mbaknya cantik, dandanannya rapi, pakai masker untuk menghindari polusi udara yang bisa mengganggu pernapasannya, nampaknya cukup berpendidikan (minimal SMA pastilah dia telah tamat), nampaknya seorang pekerja kantoran. Namun aksi pembuangan sampah yang begitu praktis ekonomis dan terjadi persisi di depan mata saya ini menurunkan penilaian saya pada Mbak yang cantik ini. "Ah...kenapa di buang ke jalan sih Mbak?" pikir saya. 


Banyak yang selalu berkomentar mengenai sebagian besar lingkungan Jakarta yang kotor dan kumuh, banyak yang mengeluh ini dan itu, namun sudahkah penghuni kota ini bertanya pada diri sendiri "Apakah yang telah saya perbuat sehingga membantu ibu pertiwi menjaga kebersihan dan keelokannya?". Hal kecil membuang sampah saja tidak kita patuhi norma dan aturannya. Ketika lingkungan menjadi tercemar, kita juga yang selalu sewot dan tidak nyaman. Ketika banjir merajalela menerjang berbagai penjuru kota, seringkali orang-orang menyalahkan pemerintah yang dirasa tidak becus kerjanya. Selama ini banyak sampah berserakan tak tentu di setiap tempat. Sungai, selokan, jalanan, halte, terminal, stasiun, dan banyak tempat lain yang tidak semestinya ada onggokan sampah tak beraturan. Lalu siapa yang membuatnya seperti itu? 

Tumpukan Sampah di Jalanan (photo: Republika Online)

Kisah lain di kota berbeda...

Hal serupa terjadi pula ketika saya di Jambi akhir minggu lalu. Malam Minggu saya bersama Mas Faisal suami saya "nongkrong" di Ancol-nya Jambi sampai hampir tengah malam. Ancol ini sebutan untuk tempat nongkrong di tepi Sungai Batanghari, banyak penjual jagung bakar, es tebu, bakso, sate padang, sekuteng, dan makanan lain. Suasananya ramai. Kami memilih duduk tepat di tepi sungai di kursi plastik yang tersedia sambil menunggu orang yang jualan bertanya akan makan apa. Kami pesan segelas sekuteng panas (rasanya enak, namun agak beda dengan sekuteng yang di Jawa) dan segelas es tebu. Sambil menunggu pesanan datang kami ngobrol, Mas Faisal sembari makan donut yang kami beli di salah satu Mall. Tak lama kemudian saya terdiam dengan ekspresi setengah kaget, bengong, dan tatapan tak hengkang dari pemandangan di depan mata saya. Seorang pemuda yang tadi menawari kami menu makanan dan minuman dengan sigapnya membereskan meja di sebelah meja kami, mengangkat gelas, lalu cekatan membersihkan sampah sisa jagung bakar dan tissu lalu membuangnya dengan begitu ringan ke sungai yang persis mengalir di depan meja, Sungai Batanghari. 

Ancol - Tepi Sungai Batanghari, Jambi

Kenapa harus ke Sungai?

Ini baru sampah satu meja malam ini, padahal satu meja itu pastilah telah dipakai berkali-kali oleh tamu lain yang juga meninggalkan sampah di meja. Dan di sepanjang tempat itu ada berpuluh-puluh meja serta ratusan orang yang datang setiap hari untuk makan di sana. Bayangkan berapa ton sampah yang dihasilkan dan bila kesemuanya itu dibuang ke sungai. Meskipun Sungai Batanghari lebar dan besar, namun bukankah semua sampah itu mencemari lingkungan dan lambat laun pastilah mengganggu ekosistem yang ada? 

Sembarangan buang sampah, kontribusi mencemari negara!

Dua cerita di atas hanyalah segelintir kecil kejadian yang terjadi di negara yang kita cintai ini.  Selama ini pastilah tak jarang kita lihat, dan bahkan disadari maupun tak disadari kita pun lalai membuang sampah sembarangan. Tidak pada tempat yang seharusnya. Dan itu terjadi tidak hanya pada golongan masyarakat bawah yang minim pendidikan, namun bahkan sampai kaum-kaum terpelajar dan tingkat ekonomi atas. Sepele mungkin kelihatannya, tapi dampaknya sangatlah besar. 

Saya ingat trainer saya ketika training beasiswa menyampaikan bahwa permasalahan yang sering terjadi di negara kita adalah masalah mentalitas. Tidak peduli dari golongan mana, hampir sama. Contoh kecilnya salah satu ya masalah buang sampah ini. Banyak warga yang masih rendah kesadarannya terhadap pentingnya masalah "persampahan" ini.

Problematika sampah yang tak teratasi menyisakan ribuan buntut persoalan yang tak kunjung selesai. Pencemaran lingkungan terjadi di mana-mana. Hasilnya kita sendiri yang terganggu dari dampak rusaknya alam sekitar dan kotornya area publik. Kesehatan dan kenyamanan kita yang dipertaruhkan. Selain itu, citra negara kita pun dipertaruhkan. Bayangkan bagaimana pendapat orang asing melihat kondisi berbagai tempat di Indonesia yang masih banyak bergelimang sampah tak bertuan, di banyak area publik dan tempat-tempat yang tak seharusnya benda-benda itu berada. 

Berbuat kebaikan untuk diri kita, lingkungan, dan bangsa ini salah satunya bisa dengan kesadaran dan kemauan untuk menempatkan sampah pada tempatnya. Mengelola sampah dengan baik sehingga lingkungan terjaga kelestariannya. Kecil tapi besar manfaatnya. 

Mari jaga lingkungan, jaga negara kita... ^^





  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs