My Diary.
to Share my Life Events

HUJAN ABU PAGI INI


Pagi ini saya dikejutkan dengan pemandangan halaman rumah yang tidak seperti biasanya, hampir semua tertutup abu yang cukup tebal dan hujan abu masih berlangsung. Memang bukan kali pertama hujan abu menyambangi daerah kami, karena sebelumnya ketika terjadi erupsi gunung Merapi hujan abu juga sampai ke rumah kami yang jaraknya kurang dari 30 km dari puncak Merapi. Hujan abu kali ini lebih tebal dari biasanya, abu yang menumpuk jauh lebih banyak, akan tapi Merapi tidak sedang erupsi, lalu dari mana asalnya?.

Abu vulkanik yang terbang dan menyelubungi Jogja ini ternyata hasil ledakan gunung Kelud yang terletak di Kediri Jawa Timur. Meskipun tempatnya cukup jauh dari Jogja, angin telah membawa material tersebut sampai ke beberapa daerah yang jauh dari lokasi gunung, bahkan berdasarkan berita di televisi, abu hasil erupsi tersebut sampai juga di Jawa Barat.

Dikarenakan Jogja dan sekitarnya terselimuti abu tebal dan masih diguyur hujan abu, maka sekolah-sekolah dan kantor diliburkan. Sebagian besar warga memilih untuk tinggal di rumah karena material vulkanik tersebut berpotensi besar mengganggu kesehatan. Begitu pula saya yang pada akhirnya libur hari ini. Saya sendiri langsung bersin-bersin dan kemudian pilek. Debu ada di mana-mana, terlebih lagi rumah kami merupakan rumah tradisional yang tanpa plafon dan memiliki bagian terbuka di lantai atas tempat menjemur pakaian yang terhubung dengan dapur dan ruang makan, sehingga abu masuk rumah melalui celah genting dan celah terbuka. Tidak ada persediaan masker di rumah, mau beli pun tidak mungkin karena rumah kami jauh dari apotek ataupun toko yang menjual masker, lagipula kondisi tidak memungkinkan untuk keluar rumah. Oleh sebab itu kami memakai kain kerudung untuk menutupi hidung dan mulut.

Saya dan ibu saya berkali-kali menyapu lantai dan membersihkan barang-barang, tapi masih saja tetap kotor berdebu. Setelah hujan abu reda, tanaman hias di depan rumah saya sirami untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, begitu juga halaman, agar abu vulkanik tidak lebih banyak beterbangan tertiup angin. Wew, tebal dan sulit membersihkannya, apalagi hujan tak kunjung turun sampai malam tiba.

Ini baru hujan abu, orang-orang yang tinggal di dekat gunung Kelud pastilah lebih merasakan dampak yang lebih besar dari erupsi tersebut. Perasaan cemas pastilah menyelubungi hati dan pikiran mereka, takut kalau-kalau awan panas menyapu pemukiman dan penghuninya, rumah dan harta benda harus ditinggalkan untuk mengungsi, kesehatan yang tentulah terganggu, persediaan pangan yang minim, dll.

Saya ingat betul ketika gunung Merapi meletus tahun 2010 lalu. Gemuruh terdengar keras sekali, dini hari orang-orang berbondong-bondong lari dengan abu dan lumpur memenuhi tubuh dan kendaraannya melewati samping rumah saya, hujan abu cukup deras, listrik padam, dan semua orang dalam keadaan panik. Pasca ledakan pun, masyarakat masih dihantui ketakutan terhadap ledakan susulan. Ah…benar-benar menegangkan!

Bencana alam memang datang dengan kuasa Tuhan. Semoga keadaan segera membaik, dan korban serta kita semua diberi kesanggupan, kesabaran, dan kemampuan untuk menghadapi persoalan yang menimpa. Stay safe dan jaga kesehatan ya, friends
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs