Dia...
8:08 AM
Jam telah menunjukkan pukul 02.00
dini hari, dan kami seakan belum puas duduk berbincang di gazebo belakang rumah sedari pukul 21.00. Dua cangkir cokelat panas telah aku habiskan, dan dua
cangkir kopi panas telah membuatnya terjaga sampai malam.
Mulut ini seperti tak mau
berhenti bicara.
Telinga ini seolah tak kuasa
untuk tak mendengar.
Hampir setiap malam kami duduk di sini melakukan ritual yang tak
pernah sanggup kami abaikan. Berbincang. Hampir setiap hal bisa kami
diskusikan. Kami bahkan berlomba-lomba untuk menjadi orang paling produktif
setiap harinya. Berapa buku telah dibaca? Berapa tulisan telah dihasilkan?
Berapa nilai yang diperoleh? Berapa kebahagiaan telah dibagi? Berapa daftar impian
yang telah tercapai? Berapa banyak manfaat diri bagi orang lain?
Tak pernah bosan kami berbagi
dunia. Dunia yang sepertinya melahirkan dua orang yang sama dalam rupa berbeda.
Memandang hidup sebagai sebuah perjalanan yang begitu menyenangkan, meskipun
terkadang pahitnya kenyataan membuat getir dan hampa.
Aku menemukan tempat untuk
berkisah lebih dari lembaran-lembaran kertas yang selama ini setia menjadi
tumpuanku menuangkan apa yang tepikir namun tak dapat terucap. Dia menemukan recorder sekaligus penggemar yang sanggup
mendengarkan konser nyanyian jiwanya yang tertahan.
“Aku pulang dulu, Kania.”, pamitnya sambil tersenyum dan menatap dengan pandangan teduhnya yang selalu membuatku terjebak dalam kenyamanan.
“Hati-hati di jalan...”, balasku dengan tak lupa memberinya senyum terbaik.
Dia pun berlalu bersama mobil
hitam kesayangannya.
“Bagaimana jika nanti Dia pergi untuk selamanya? “ renungku malam ini.
“Bagaimana jika Dia tak mau lagi mendengarku bercerita?”.
Mungkin aku akan kembali menjadi
seorang Kania yang pendiam dan tertutup seperti sebelum aku mengenal Dia.
Mungkin buku diary cokelatku akan begitu bahagia karena aku kembali padanya
untuk mengungkapkan rasa. Mungkin guling di kamarku akan tersiksa lagi oleh
dekapanku ketika aku meraung dan bercucuran air mata setelah beberapa tahun ini
tugasnya tergantikan oleh bahu hangat milik si Dia.
Dia yang mampu mengerti…. tak kan
terganti…