My Diary.
to Share my Life Events

Dia...


Jam telah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, dan kami seakan belum puas duduk berbincang di gazebo belakang rumah sedari pukul 21.00. Dua cangkir cokelat panas telah aku habiskan, dan dua cangkir kopi panas telah membuatnya terjaga sampai malam.

Mulut ini seperti tak mau berhenti bicara.
Telinga ini seolah tak kuasa untuk tak mendengar.

Hampir setiap malam  kami duduk di sini melakukan ritual yang tak pernah sanggup kami abaikan. Berbincang. Hampir setiap hal bisa kami diskusikan. Kami bahkan berlomba-lomba untuk menjadi orang paling produktif setiap harinya. Berapa buku telah dibaca? Berapa tulisan telah dihasilkan? Berapa nilai yang diperoleh? Berapa  kebahagiaan telah dibagi? Berapa daftar impian yang telah tercapai? Berapa banyak manfaat diri bagi orang lain?

Tak pernah bosan kami berbagi dunia. Dunia yang sepertinya melahirkan dua orang yang sama dalam rupa berbeda. Memandang hidup sebagai sebuah perjalanan yang begitu menyenangkan, meskipun terkadang pahitnya kenyataan membuat getir dan hampa.

Aku menemukan tempat untuk berkisah lebih dari lembaran-lembaran kertas yang selama ini setia menjadi tumpuanku menuangkan apa yang tepikir namun tak dapat terucap. Dia menemukan recorder sekaligus penggemar yang sanggup mendengarkan konser nyanyian jiwanya yang tertahan.
Aku pulang dulu, Kania.”, pamitnya sambil tersenyum dan menatap dengan pandangan teduhnya yang selalu membuatku terjebak dalam kenyamanan.
Hati-hati di jalan...”, balasku dengan tak lupa memberinya senyum terbaik.
Dia pun berlalu bersama mobil hitam kesayangannya.
Bagaimana jika nanti Dia pergi untuk selamanya? “ renungku malam ini.
Bagaimana jika Dia tak mau lagi mendengarku bercerita?”.
Mungkin aku akan kembali menjadi seorang Kania yang pendiam dan tertutup seperti sebelum aku mengenal Dia. Mungkin buku diary cokelatku akan begitu bahagia karena aku kembali padanya untuk mengungkapkan rasa. Mungkin guling di kamarku akan tersiksa lagi oleh dekapanku ketika aku meraung dan bercucuran air mata setelah beberapa tahun ini tugasnya tergantikan oleh bahu hangat milik si Dia.

Dia yang mampu mengerti…. tak kan terganti… 




Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs