Menjadi Pencinta Alam
11:47 AM
![]() |
| Gunung Rinjani, Lombok NTB, Indonesia |
Membaca novel dan menyaksikan
film layar lebar 5 cm mengingatkan Saya tentang masa remaja. Tidak terlalu
nyambung, tapi ini berkaitan dengan mimpi Saya mendaki gunung dan menjadi
seorang pencinta alam :-)
Sejak SMA Saya mengagumi para pencinta alam, Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam), petualang,
dan sejenisnya. Dulu ingin sekali ikut ekstra kurikuler (ekskul) pencinta alam
agar bisa naik gunung, tapi di sekolah Saya dulu nggak eksis ekskul ini. Jadi, pupuslah harapan Saya untuk bisa berkecimpung menjadi seorang Siswa Pencinta
Alam (Sispala) dan tentunya mendaki gunung.
Kenapa Saya tertarik?
Ya, karena pasti menyenangkan
bisa mendaki gunung, berpetualang menyusur hutan, camping di pantai, mengarungi jeram, memanjat tebing, dan banyak
kegiatan lain yang menantang dan seru. Menemukan banyak hal baru. Tayangan
favorit Saya sejak dulu adalah “Jejak Petualang” yang disiarkan oleh salah satu
stasiun TV (TV7) yang sekarang berubah nama jadi Trans7, dengan pembawa acara Mbak Riyani Djangkaru (sok akrab banget
iak..). Selain dia menarik dan cerdas, Saya menyukainya karena nama kami hampir
sama, Riyani dan Riyuni (hehhehe…maksaaa!). Saya kadang berandai-andai menjadi
dia, pasti seru berpetualang dan banyak melakukan hal-hal yang menyenangkan
serta menantang. Meskipun gagal menjadi seorang Sispala dan tentunya menerima
kenyataan bahwa Saya bukan seorang Riyuni Riyani Djangkaru, Saya suka sekali style ala pencinta alam yang cool
menurut Saya: celana cargo, sandal gunung, ransel, sepatu, dll. Jadilah sedikit
Saya ikuti beberapa gaya, sesuailah dengan
Saya yang agak tomboy :-)
Ketika masuk kuliah, keinginan Saya
menjadi seorang Mapala belum pupus sepenuhnya. Awal kuliah, kami ditawari
berbagai macam kegiatan di luar kuliah seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ),
forum studi, Mapala, dan juga media fakultas. Saya sebenarnya tertarik di dua
bidang, Mapala dan media. Namun ternyata keduanya tidak berjodoh dengan Saya,
karena pada akhirnya Saya hanya menjadi anggota HMJ dimana Saya kurang aktif
pula di dalamnya. Saya lupa kenapa tidak jadi bergabung di media, tapi Saya
ingat betul kenapa Saya tidak jadi bergabung dengan Mapala di Fakultas
Peternakan. IBU SAYA TIDAK MENGIJINKAN. What
a pity me. Berhubung restu orang tua sangat penting, Saya sebagai seorang
anak yang ingin berbakti akhirnya menghapus keinginan menjadi seorang anggota Mapala
dari daftar “What I Want To Do”. Tentunya
ibu Saya khawatir anak perempuan satu-satunya ini (kala itu belum punya adik)
menantang bahaya kalau harus mendaki gunung dan kegiatan ekstrim lainnya.
Baiklah, Saya terima kenyataan
bahwa Saya tidak akan pernah menjadi seorang anggota Mapala dan kemungkinan
sangaaaat kecil untuk bisa merasakan sensasi mendaki gunung dan berbagai
kegiatan ekstrim lainnya (meskipun masih sedikit berharap). Apalagi mengingat
kondisi fisik Saya yang sepertinya tak terlalu kuat untuk melaksanakan
keinginan-keinginan yang begitu banyak di dalam otak Saya.
Luckily, keinginan Saya itu sepertinya tak sepenuhnya diabaikan
oleh Tuhan. Ketika bahkan Saya tidak lagi terpikir tentang keinginan Saya
tersebut, Tuhan mengirimkan seorang Mapala untuk Saya, yang memberikan Saya
pengalaman baru dan banyak informasi yang sebelumnya tak Saya ketahui.
Seseorang yang seringkali penuh kejutan dengan membuat Saya merasakan
pengalaman yang sebelumnya sangat Saya inginkan. Saya memang belum pernah
mendaki gunung, tapi seolah Saya tahu rasanya karena dia bercerita dengan begitu
bergairah dan bersemangat. Nama saya pun pernah terususun dengan
kepingan-kepingan batu di puncak Gunung Rinjani (what a nice!) ^^.
Saya salut terhadap para pencinta alam. Tetapi, Saya terkadang sedih ketika melihat beberapa orang yang mengaku dirinya seorang Mapala justru bertindak bertentangan, contoh kecilnya saja membuang sampah sembarangan, tidak menjaga kebersihan lingkungan, merusak alam, mabuk-mabukan, kurang memperhatikan diri sendiri dan orang lain, serta bersikap semaunya. Sedih ketika kemudian image pencinta alam menjadi negatif karena terkesan semau gue. Sedih ketika dulu pernah ada yang bilang dengan nada negatif dan kurang nyaman “Pacarmu Mapala? Mapala kan biasanya…bla….bla…bla….” >.<!? #hadeeehh....
Setelah Saya pikir-pikir lagi, menjadi seorang mahasiswa atau seorang pencinta alam tidaklah wajib menjadi anggota sebuah klub pencinta alam dan sebangsanya. Namun bagaimana kita harus bersikap baik dan bijak pada alam, mencintai dengan sungguh-sungguh alam semesta yang begitu mempesona ini. Bukan berarti menjadi seorang Mapala atau pencinta alam itu tidak bagus, justru sangat bagus :-)
Mencintai alam bukan sekedar
mendaki gunung, mengarungi jeram, mendaki tebing, menyusuri gua, dan menyusuri
hutan… Menjadi seorang pencinta alam bukan hanya orang yang melakukan semua
itu… Mencintai alam lebih bermakna menjaganya agar tak rusak sia-sia,
merawatnya agar lestari, membuatnya bersinar indah dan mempesona… ^^
![]() |
| Danau Segara Anak, Rinjani, Lombok |
*Photo diambil dari koleksi Arif Faisal Simatupang (dokumentasi perjalanan ke Gunung Rinjani bersama sahabat-sahabatnya: BTW, Ari, Anton)



cieeeeeeeeeeh, yang jadi istrinya anak mapala alim.
ReplyDeleteuhuuukkk....hhahhahaa...... :D
Deletecieeee jugaaa yang mapala alim plus istrinya mapala alim wkwkwkkwkw :p
Cie2x....asiknya
ReplyDeleteNumpang jejak disini yah istrinya mantan mapala sahabatku terbaik seantero yogyakarta :D
luangkanlah sejenak mampir2 di blog ku yaaaa :D hahhaha
Deletemencintai alam dan lingkungan hidup memberikan efek kesegaran kapda jiwa, sehingga akan memberikan daya kasih sayang yang lebih dalam kepada alam semesta dan penghuninya. ayo dibuat cerpen. atau juga bisa mencipta puisi dari hasil kunjungan ke beberapa daerah. salam.
ReplyDeleteIyaaa...jadi tambah semangat buat belajar bikin cerpen dan puisi :)
Deletemenginspirasi
ReplyDeleteSpeaking about surfing. I would say it is one of the best sports but good coverage is not given to this sport on international media.
ReplyDelete