Memiliki Keluarga Penyandang Disabilitas
12:35 PMSaya baru selesai menonton drama Korea dengan judul "Our Blues" episode 14, yang mengisahkan seorang Yeong-Ok yang malu dan terpuruk karena memiliki saudara kembar seorang penyandang Syndrom Down dan Skizofrenia, Yeon-Hui. Terlebih lagi, orang tuanya telah meninggal ketika mereka berusia 12 tahun dan dia harus menanggung sendiri tanggung jawab berat untuk menjaga Yeon-Hui yang berkebutuhan khusus.
Pasti sangat berat rasanya, ketika anak sekecil itu membawa beban besar seorang diri tanpa dukungan lingkungan yang memadai. Sampai ketika sudah dewasa, dia melarikan diri dengan memilih bekerja jauh dari kakaknya karena sudah tidak tahan, menginginkan kebebasan dan kebahagiaan, terlepas dari beban yang menurutnya disebabkan oleh kakak yang merepotkan. Berkali-kali ditinggalkan pacar karena karena alasan kembaran yang "aneh" membuatnya tidak mau lagi berkomitmen dengan laki-laki.
Episode masih berlanjut minggu depan, meskipun sebenarnya kali ini saya tidak akan terlalu membahas drama tersebut, tapi terkait pesan yang terkandung dan realitas yang terjadi di dunia nyata.
Apakah setiap orang mau memiliki anggota keluarga dengan disabilitas/berkebutuhan khusus?
Tentu TIDAK!
Setiap orang pasti memilih kesempurnaan dan kenyamanan hidup, jika boleh memilih. Namun, hidup tidak selalu sesuai harapan. Semua tergantung Sang Pemilik Semesta, mau diapakan makhluk-makhluk ciptaan-Nya ini. Demikian pula lahirnya seorang anak difabel, tidak mungkin orang tuanya berdoa menginginkan anak seperti itu, tapi mau bagaimana lagi jika takdir Tuhan menjadikannya demikian. Pasti ada misi tersendiri untuk setiap yang bersinggungan, berdampingan hidup dengan mereka, menjaga, dan memanusiakannya karena pada dasarnya kita semua sama, makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa.
Saya pun, dulu tidak pernah membayangkan bahwa keluarga kami merupakan salah satu "yang terpilih" untuk mempunyai anggota dengan kebutuhan khusus. Adik kami, anak bungsu orang tua kami, menyandang Syndrom Down. Lahir di saat kondisi Ibu yang tak lagi muda dan tak disangka. Namun, ada untungnya juga dia lahir di saat Saya dan Kakak telah berusia lebih dari 20 tahun sehingga dengan sadar kami menerima dan menyayanginya dengan tulus. Meski berat menerima kenyataan itu, namun yang bisa kita lakukan adalah merawatnya dengan baik. Karena pasti yang paling repot dengan semua ini adalah Ibu, sehingga perlu lingkungan yang suportif untuk membuatnya tidak merasa berat sendirian.
Hei, Kamu Tidak Sendiri!
Ya, ternyata banyak di dunia ini mengalami hal serupa. Tak hanya kisah di TV ataupun film, tapi di lingkungan sekitar kita banyak juga yang mengalami. Beberapa teman yang hidupnya terlihat "sempurna", pun memiliki kisah "biru" yang menguras energi dan emosi. Berbagai kisah, bermacam perjuangan. That's life!
Lingkungan harus mendukung untuk menjaga orang-orang dengan kebutuhan khusus ini. Semua dapat memiliki peran, jangan mencibir, merendahkan, bahkan mendiskriminasi. Justru, seharusnya orang-orang yang merasa "normal" lah, harus melakukan hal-hal untuk memberi dukungan kepada penyandang disabilitas serta keluarganya.
Dan, bagi yang memiliki keluarga dengan kebutuhan khusus, tidak perlu malu, ya karena memang bukan salah kita kan. Tuhan berkehendak, jadilah maka jadilah. Semoga kita dikuatkan dan diberi kemampuan menjalani hidup dengan baik, sesuai tujuan dan misi yang diemban oleh setiap makhluk yang diberikan penciptanya.