My Diary.
to Share my Life Events

Jadi Ibu dan Ayah "beneran"

Apa maksudnya "beneran" dalam judul tulisan kali ini? Apa sebelumnya jadi Ibu dan Ayah bajakan?
No no... bukan itu masud saya kok, masak iya bajakan atau KW !? 
--------


Sejak Eura lahir, Saya dibantu oleh keluarga dalam menjaga Eura, terutama ketika Saya dan Ayahnya Eura pergi bekerja. Tiga bulan pertama, kami masih di kampung halaman. Banyak keluarga yang bantu jaga Eura dan juga ibunya ini. Bulan bulan berikutnya, bergantian anggota keluarga yang menjaganya, lalu pada bulan ke-enam sampai usia Eura 1 tahun 1 bulan, Eyang Uti yang mengasuhnya (Ibu Saya). Kebayang kan betapa enaknya saya ini, kalo capek tinggal tidur, udah ada yang gantian bantu jaga anak. ~.~"

Dalam usia sekecil itu, Eura juga udah bolak balik Jakarta-Jogja beberapa kali. Naik kereta maupun pesawat. Seringnya berdua saja dengan Eyang Utinya. Anak yang kuat...

Sekarang, Eura hanya bersama kami, Ayah dan Ibunya di kota perantauan. Kami memutuskan untuk menitipkannya di taman bermain (daycare) setiap hari kerja. Tega!? Iya, harus ditega-tegain meski sedih pas dia nangis dan menatap sendu ditinggal pergi kerja oleh kami :-(

Setiap pagi, Ayah Eura yang mengantar (kecuali sedang dinas luar kota). Saya berangkat lebih pagi karena kantor lebih jauh. Tapi tenang, si Ayah ini cukup telaten kok menangani si bayi yang udah ngga bayi lagi ini. Dan, sebagian penjemput balita lain juga bapak-bapak :-D

FYI, Suami saya ini termasuk bapak-bapak yang mau ikut bantu banget ngurusin anak. Eura kayanya lebih heboh kalau ketemu bapaknya dibanding jumpa ibunya (erggghh). Dia juga mau repot ngajak main, mandiin, bikin susu, sampe nyebokin dan menidurkan Eura. Ayah "beneran" gitu lah...  Terima kasih ya Yah, Ayah :-*

Terus terang, pekerjaan di rumah jadi lebih banyak (kami ngga punya ART). Kami berdua saling bantu melakukan urusan domestik, semacam nyuci, setrika, beresin rumah, masak, belanja, dll. Bangun jadi lebih pagi, tidur lebih malam. Perlengkapan yang harus dibawa ke tempat bermainnya juga harus disiapkan.  Kali ini kami merasakan jadi orang tua "beneran". (Sampe hampir tiap hari matanya kaya mata panda ). Tapi seruuu sihhh... \(^^)/
-----

Banyak yang bertanya:
Kenapa ngga pake ART atau pengasuh saja?
"ART yang pas susah nyarinya, rumah belum memadai untuk tambahan personil diluar keluarga, dan rasanya lebih khawatir ninggal anak."

Kenapa ngga berhenti kerja saja?
"Suami mendukung saya bekerja. Saya suka pekerjaan saya juga. Intinya banyak alasan kenapa saya memilih bekerja. Sekian, Terima kasih. :-)"
----

Sejauh ini, baby Ulala baik-baik saja. Dia gembira main bersama teman-temannya.  Banyak ibu-ibu lain yang seperti saya, menitipkan anak selagi ditinggal kerja. Semangat semua ya ibu-ibu. Semoga anak kita selalu sehat, bahagia, cerdas dan mandiri.

Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tapi cara yang dilakukan bisa jadi berbeda-beda karena kondisi setiap keluarga kan tidak sama. Tidak masalah apabila Ibu memilih bekerja di luar rumah atau full di rumah. Setiap pilihan memang ada positif dan negatifnya. Yang jelas, kita tidak perlu menghakimi orang lain atas pilihan hidup yang mereka tempuh. Kita sama-sama saling berdoa dan mendoakan agar semua aman, damai, bahagia, sehat, sejahtera, makmur, sentosa ^-^

Yuk, saling menghargai pilihan hidup orang lain. 

Salam,

Ryu
*ibu satu anak yang nulis dalam perjalanan pulang naik commuter line dan tertahan mau masuk stasiun Manggarai
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs