Saatnya Solusi Jangka Panjang Bagi Stabilnya Harga Daging Sapi
4:59 PM
Harga daging sapi terus meningkat sejak akhir tahun 2012, terlebih pada
bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Berdasarkan data Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Propinsi DKI Jakarta, sampai dengan tanggal 12
Juli 2013, harga
daging sapi di Jakarta telah menyentuh angka Rp101.000,-. Namun demikian, harga tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan harga daging sapi di Bandung yang mencapai
Rp109.000,-. Sedangkan di kota-kota besar lainnya seperti Semarang, Yogyakarta,
Surabaya, Denpasar, Medan, dan Makasar, harga daging sapi masih berkisar antara Rp78.000,- sampai Rp97.000,-.
Berdasarkan data BPS, harga daging pada bulan Juli 2013
mencapai Rp95.000,-. Sejumlah media bahkan menyebutkan bahwa harga daging di pasaran telah
mencapai Rp120.000,-.
Secara umum, kenaikan harga daging sapi secara
nasional dapat dilihat pada pada
gambar berikut:
Gambar Perkembangan
harga daging sapi Januari 2009 s.d Juli 2013
Berdasarkan gambar tersebut, harga daging sapi pada tahun
2009 – 2011 cenderung mengalami kenaikan saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul
Fitri, kemudian menurun dan cenderung stabil. Pada tahun 2012, harga daging
sapi juga menurun pasca hari raya Idul Fitri, akan tetapi kembali meningkat pada akhir tahun
2012, yaitu pada bulan November 2012 dan belum
mengalami penurunan signifikan sampai bulan Juli 2013 (ramadhan).
Tingginya harga
daging sapi diperkirakan karena tingginya permintaan yang dibarengi
dengan supply
yang terbatas.
Pengurangan impor yang signifikan belum didukung dengan produksi
dalam negeri yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Penyebab lainnya
adalah terhambatnya
distribusi sapi dan daging
sapi dari daerah-daerah sentra ke pusat konsumsi karena sejumlah
kendala.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk
menstabilkan harga daging sapi yang diharapkan berada pada
kisaran Rp75.000,- sampai Rp80.000,- per kg dengan cara mempercepat
impor daging sapi dan sapi bakalan. Penambahan alokasi impor juga menjadi
alternatif kebijakan stabilisasi harga daging yang diimplementasikan melalui
penunjukan Perum BULOG untuk menjadi buffer
stock daging sapi. Dengan kewenangan tersebut, BULOG diberikan otoritas untuk dapat melaksanakan
importasi daging yang kemudian akan digunakan melalui mekanisme operasi pasar (OP). Solusi
lainnya adalah, penghapusan
alokasi impor daging sapi
jenis prime cut yang diharapkan dapat
mencukupi kebutuhan hotel, restoran, dan katering dan tidak mengganggu pasokan daging
untuk konsumen umum.
Menindaklanjuti instruksi pemerintah, BULOG telah merealisasikan impor daging
sapi sebanyak 12 ton dari
total alokasi 3.000 ton pada pertengahan Juli 2013, sedangkan
sisanya akan masuk secara bertahap sampai dengan akhir bulan Agustus 2013.
Meskipun BULOG telah merealisasikan alokasi impornya dan melakukan OP, langkah-langkah
kebijakan yang ditempuh pemerintah
tersebut belum mampu untuk menurunkan harga daging sapi secara
signifikan. Harga
daging sapi di pasar tradisional masih cenderung tinggi.
Faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (bbm) dan adanya kenaikan permintaan selama bulan Ramadhan
turut berpotensi memberikan efek negatif bagi upaya penstabilan harga daging
sapi.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa perhitungan demand daging sapi masih tinggi, sehingga hal tersebut memberikan
isyarat kepada pemerintah bahwa tambahan
impor daging maupun sapi siap potong masih diperlukan. Alokasi impor daging
sapi untuk tahun 2013 sebesar 80.000 ton dan tambahan 3.000 ton dirasa belum
mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri serta menstabilkan harga. Dengan
mengacu kepada kondisi tersebut, Rapat
Koordinasi Terbatas (Rakortas) tingkat menteri di Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian telah memutuskan
bahwa akan dilakukan impor sapi siap potong untuk memenuhi
kebutuhan dan menstabilkan harga daging sapi.
Kondisi yang
terjadi pada stabilisasi pasokan dan harga daging sapi tersebut menunjukkan
bahwa Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 kemungkinan
besar belum dapat dicapai. Perhitungan supply
dan demand yang telah dilakukan
meleset, sehingga sistem perhitungannya perlu diperbaiki. Oleh karenanya,
sudah saatnya bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan kebijakan pertanian
khususnya dalam produksi dan tata niaga daging sapi secara menyeluruh untuk
menciptakan stabilisasi pemenuhan pangan dalam jangka panjang.