My Diary.
to Share my Life Events

Saatnya Solusi Jangka Panjang Bagi Stabilnya Harga Daging Sapi

Harga daging sapi terus meningkat sejak akhir tahun 2012, terlebih pada bulan Ramadhan dan menjelang hari raya Idul Fitri. Berdasarkan data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Propinsi DKI Jakarta, sampai dengan tanggal 12 Juli 2013, harga daging sapi di Jakarta telah menyentuh angka Rp101.000,-. Namun demikian, harga tersebut masih lebih rendah bila dibandingkan dengan harga daging sapi di Bandung yang mencapai Rp109.000,-. Sedangkan di kota-kota besar lainnya seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, dan Makasar, harga daging sapi masih berkisar antara Rp78.000,- sampai Rp97.000,-.
Berdasarkan data BPS, harga daging pada bulan Juli 2013 mencapai Rp95.000,-. Sejumlah media bahkan menyebutkan bahwa harga daging di pasaran telah mencapai Rp120.000,-. Secara umum, kenaikan harga daging sapi secara nasional dapat dilihat pada pada gambar berikut:


Gambar Perkembangan harga daging sapi Januari 2009 s.d Juli 2013

Berdasarkan gambar tersebut, harga daging sapi pada tahun 2009 – 2011 cenderung mengalami kenaikan saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, kemudian menurun dan cenderung stabil. Pada tahun 2012, harga daging sapi juga menurun pasca hari raya Idul Fitri, akan tetapi kembali meningkat pada akhir tahun 2012, yaitu pada bulan November 2012 dan belum mengalami penurunan signifikan sampai bulan Juli 2013 (ramadhan). 
Tingginya harga daging sapi diperkirakan karena tingginya permintaan yang dibarengi dengan supply yang terbatas. Pengurangan impor yang signifikan belum didukung dengan produksi dalam negeri yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Penyebab lainnya adalah terhambatnya distribusi sapi dan daging sapi dari daerah-daerah sentra ke pusat konsumsi karena sejumlah kendala.
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menstabilkan harga daging sapi yang diharapkan berada pada kisaran Rp75.000,- sampai Rp80.000,- per kg dengan cara mempercepat impor daging sapi dan sapi bakalan. Penambahan alokasi impor juga menjadi alternatif kebijakan stabilisasi harga daging yang diimplementasikan melalui penunjukan Perum BULOG untuk menjadi buffer stock daging sapi. Dengan kewenangan tersebut, BULOG diberikan otoritas untuk dapat melaksanakan importasi daging yang kemudian akan digunakan melalui mekanisme operasi pasar (OP). Solusi lainnya adalah, penghapusan alokasi impor daging sapi jenis prime cut yang diharapkan dapat mencukupi kebutuhan hotel, restoran, dan katering dan tidak mengganggu pasokan daging untuk konsumen umum.
Menindaklanjuti instruksi pemerintah, BULOG telah merealisasikan impor daging sapi sebanyak 12 ton dari total alokasi 3.000 ton pada pertengahan Juli 2013, sedangkan sisanya akan masuk secara bertahap sampai dengan akhir bulan Agustus 2013. Meskipun BULOG telah merealisasikan alokasi impornya dan melakukan OP, langkah-langkah kebijakan yang ditempuh pemerintah tersebut belum mampu untuk menurunkan harga daging sapi secara signifikan. Harga daging sapi di pasar tradisional masih cenderung tinggi. Faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (bbm) dan adanya kenaikan permintaan selama bulan Ramadhan turut berpotensi memberikan efek negatif bagi upaya penstabilan harga daging sapi.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa perhitungan demand daging sapi masih tinggi, sehingga hal tersebut memberikan isyarat kepada pemerintah bahwa tambahan impor daging maupun sapi siap potong masih diperlukan. Alokasi impor daging sapi untuk tahun 2013 sebesar 80.000 ton dan tambahan 3.000 ton dirasa belum mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri serta menstabilkan harga. Dengan mengacu kepada kondisi tersebut, Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) tingkat menteri di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah memutuskan bahwa akan dilakukan impor sapi siap potong untuk memenuhi kebutuhan dan menstabilkan harga daging sapi.
Kondisi yang terjadi pada stabilisasi pasokan dan harga daging sapi tersebut menunjukkan bahwa Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 kemungkinan besar belum dapat dicapai. Perhitungan supply dan demand yang telah dilakukan meleset, sehingga sistem perhitungannya perlu diperbaiki. Oleh karenanya, sudah saatnya bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan kebijakan pertanian khususnya dalam produksi dan tata niaga daging sapi secara menyeluruh untuk menciptakan stabilisasi pemenuhan pangan dalam jangka panjang. 
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs