My Diary.
to Share my Life Events

Selamat Datang di Desa Salbait

Jumat, 5 April 2013
------------------------

Melanjutkan cerita saya di tulisan  "Finally, Kupang!" Perjalanan kali ini menuju ke sebuah desa di Nusa Tenggara Timur, untuk melihat lokasi pengembangan peternakan sapi dan mengunjungi beberapa kelompok peternak di desa tersebut. Desa Salbait, Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Demi sampai di desa ini, kami (saya beserta rombongan kantor dan pegawai Dinas Peternakan setempat) harus melakukan perjalanan sekitar 2 jam dari Kota Soe (Ibukota kabupaten TTS) dengan medan yang tidak bisa dibilang ringan, karena  jauh, jalannya terjal dan harus pakai mobil 4 WD. Kalau yang nggak tahan, mungkin akan "mabok" (untung saya sudah nggak mabokan lagi hehe..).

Setelah perjalanan panjang, tibalah kami di salah satu rumah anggota kelompok peternak. Kami dipersilahkan masuk ke dalam sebuah rumah (rumah ketua kelompok). Awalnya kami berbincang biasa saja, namun tak lama kemudian Pak Kepala Dinas Peternakan menyampaikan pada kami bahwa akan ada upacara penyambutan oleh warga setempat untuk kedatangan kami. Upacara ini sudah menjadi tradisi, selalu dilakukan bila ada tamu yang datang.

Kami semua dipersilahkan untuk berdiri. Beberapa warga laki-laki dan perempuan berdiri di salah satu ujung ruangan, dengan dua orang perempuan membawa nampan berisi kain-kain tenun yang mereka produksi sendiri. Agak kaget ketika mereka kemudian berteriak lantang dengan bahasa daerah yang tak saya mengerti sama sekali. Ada salah satu orang yang memimpin, beliau ini mengucapkan kata-kata dengan keras yang kemudian disambut oleh orang-orang di sampingnya. Kata yang dapat saya tangkap hanyalah jawaban dari orang-orang tersebut seperti "es i", dan tentunya tak dapat saya mengerti maknanya ~~". Selain itu saya dengar "Jakarta". Ohh mungkin mereka bilang ini tamu dari Jakarta ;-P



Setelah "paduan suara" selamat datang tersebut selesai, kedua perempuan yang membawa nampan tersebut menuju Ibu Wiwiek, selaku atasan kami. Beliau dikalungi kain tenun yang cantik. Ternyata tak hanya beliau, namun kami semua yang datang dikalungi kain tenun (11 orang). Kebayang donk yaa, betapa bahagianya saya karena memperoleh kain tenun yang sehari sebelumnya sangat saya inginkan :D 

Kain tenun ini adalah hasil karya perempuan setempat. Asli, bagus banget. Saya sendiri sulit membayangkan jika saya harus membuatnya, pastilah butuh waktu yang lama hehehe. 



Upacara penyambutan tamu tersebut merupakan tradisi masyarakat setempat yang dimaksudkan untuk menghormati tamu yang datang. Pemberian kain tenun tersebut diibaratkan seperti pemberian pelana kuda. Ketika akan pulang, upacara serupa pun dilakukan dan diberikan kain tenun lagi, sebagai pelana untuk kami pergi. 

Tidak hanya itu, mereka pun menyambut kami dengan memberikan seekor ternak untuk jamuan makan. Dikarenakan mayoritas kami muslim, kami diberikan seekor kambing dan ayam untuk dipotong oleh perwakilan kami yang muslim. Biasanya bila tamunya bukan muslim, mereka menyembelihkan ternak babi. Eh saya baru tahu ketika kembali ke Jakarta, bahwa sebenarnya mereka telah memotong B2 untuk kami, tapi berhubung sebagian kami tak dapat mengkonsumsinya kemudian disembelihlah kambing dan ayam.

Upacara penyambutan ini dilakukan di setiap kelompok yang kami datangi. Kami hanya sempat mengunjungi dua kelompok, karena lokasi setiap kelompok cukup berjauhan. Selain jauh, waktu yang diperlukan tidak sebentar untuk berada di setiap kelompok. Kami melihat lokasi peternakan sapi, upacara penyambutan, berdiskusi, menunggu masaknya makanan yang mereka siapkan setelah penyembelihan ayam maupun kambing, makan, lalu upacara pelepasan. Sampai malam deh jadinya :-P

Hanya dua kelompok saja sudah membuat kami kenyang, bagaimana jika semua kelompok kami kunjungi?! :D Kami disuguhi juga jagung rebus, makanan pokok masyarakat setempat. Dan bicara soal jagung, saya nanti ingin cerita (di judul tulisan yang lain) tentang bagaimana mereka menyimpan jagung sebagai cadangan makanan ^^.

Perjalanan yang melelahkan pun rasanya terganti dengan penyambutan yang hangat dari masyarakat setempat, pemandangan alam yang indah, kain tenun hadiah dari warga, dan taburan bintang di langat malam NTT yang menemani perjalanan pulang yang gelap tanpa penerangan lampu jalan. Hanya lampu mobil dan cahaya bintang. 

Saya belajar dari hal ini. Memuliakan tamu. Belajar bagaimana menghargai tamu dan menyambutnya dengan kehangatan. 

Haim toit makasi, bapa..mama... ^^



*) Foto-foto perjalanan lebih lengkap dapat dilihat di facebook saya:
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10151519983288518.1073741826.715258517&type=3
  •  
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs