My Diary.
to Share my Life Events

Harga Daging Sapi Naik: Dilema Pemerintah


Sebagian masyarakat Indonesia sedang resah terkait harga daging sapi yang cenderung meningkat tajam. Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 yang mengurangi alokasi impor daging sapi secara signifikan dalam beberapa tahun ini dituding beberapa pihak sebagai pemicu lonjakan harga daging yang begitu tinggi dan ketersediaan daging di pasaran yang semakin sulit diperoleh. Padahal, Permentan 50 tahun 2011 dan Permendag 24 tahun 2011 menyebutkan bahwa daging impor hanya diperuntukkan bagi industri, hotel, restoran, dan catering. Dengan demikian, keberadaan daging sapi impor seharusnya tidak secara signifikan berpengaruh pada kenaikan harga daging sapi di pasar.

Demi mewujudkan swasembada daging 2014, pemerintah memangkas alokasi impor daging sapi secara bertahap setiap tahunnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap daging impor dalam memenuhi kebutuhan. Target yang diharapkan yaitu Indonesia mampu mencukupi 90% kebutuhan daging nasional dari produksi daging dalam negeri pada tahun 2014. Pada tahun 2012, impor daging sapi ditetapkan sebesar 17,52% dari total kebutuhan dalam negeri atau sebesar 84,80 ribu ton. Namun dikarenakan ketidakcukupan penyediaan, alokasi impor dinaikkan menjadi 18,63% atau setara dengan 95,02 ribu ton. Pada tahun 2013, telah disepakati alokasi impor sebesar 80 ribu ton daging, dimana sekitar 4,7 ribu ton merupakan alokasi 2012 yang tidak terealisasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Februari 2013 vs Februari 2012 (Y-o-Y) harga daging sapi naik sebesar 28,16%. Kenaikan harga tersebut lebih besar dibandingkan kenaikan pada bulan Februari 2012 vs Februari 2011, yaitu sebesar 9,08% dan kenaikan pada bulan Februari 2011 vs Februari 2010 sebesar 6,25%.

Sumber: BPS (terolah)
Naiknya harga daging sapi ini dapat menguntungkan bagi peternak lokal dan meningkatkan gairah beternak karena harga jual sapi yang tinggi. Namun di sisi lain, tingginya harga sapi dalam negeri juga menyebabkan harga daging yang ada turut meningkat, sehingga berimbas pada berkurangnya pembeli daging sapi. Industri pun tidak sanggup untuk membeli daging lokal yang harganya jauh lebih tinggi dari harga daging impor sebagai bahan baku.

Permasalahan tersebut menjadi dilema bagi pemerintah karena di satu sisi pemerintah harus membantu peternak untuk menggerakkan sektor riil, namun di sisi lain, pemerintah juga harus menjamin pemenuhan kebutuhan konsumen dan industri pengolahan daging.


Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs