Pendidikan Tanggung Jawab Siapa?
11:27 PM
Suatu hari, ada seorang Ibu datang ke rumah kami sambil
menangis dan terduduk di lantai. Si Ibu ini mencurahkan kesedihannya, nggak punya uang untuk membayar biaya
masuk anaknya ke SLTA. Waktu itu sekitar 2 juta rupiah. Anaknya pintar, dan
berkeinginan tinggi untuk bisa sekolah. Dia pinjam uang ke seorang tetangga,
malah diberikan bunga pinjaman yang justru mencekik leher, sampai-sampai dia menggadaikan Magic Jar (pemanas nasi) yang dimilikinya. Saya dan Ibu Saya
yang dicurhati benar-benar merasa
sedih dan iba, tapi kami saat itu juga sedang tidak punya uang sebanyak itu untuk
membantunya.
Harga Daging Sapi Naik: Dilema Pemerintah
10:01 AM
Sebagian
masyarakat Indonesia sedang resah terkait harga daging sapi yang cenderung
meningkat tajam. Program Swasembada Daging Sapi dan Kerbau (PSDSK) tahun 2014 yang
mengurangi alokasi impor daging sapi secara signifikan dalam beberapa tahun ini
dituding beberapa pihak sebagai pemicu lonjakan harga daging yang begitu tinggi
dan ketersediaan daging di pasaran yang semakin sulit diperoleh. Padahal, Permentan
50 tahun 2011 dan Permendag 24 tahun 2011 menyebutkan bahwa daging impor hanya
diperuntukkan bagi industri, hotel, restoran, dan catering. Dengan demikian,
keberadaan daging sapi impor seharusnya tidak secara signifikan berpengaruh
pada kenaikan harga daging sapi di pasar.
Sabtu, 23 Februari 2013
1:53 PM
Saya bergegas mengemas barang kemudian berjalan menyusul atasan saya untuk bersiap pergi ke Gedung DPR RI di Senayan. Atasan saya akan menjadi salah satu narasumber seminar terkait dengan swasembada dan impor daging sapi yang diadakan oleh salah satu fraksi partai besar. Berhubung dari pagi belum makan, perut terasa perih dan kepala agak pusing, lapar! Kurang konsentrasi ketika diajak berdiskusi di dalam mobil :-p Luckily, kami dapat makan siang di acara tersebut ^^ #terselamatkan..
Angkot oh Angkot
5:26 PM
"brruukkk..."
"aduuh.."
Tubuh saya tiba-tiba terpelanting ke depan ketika supir angkot ngerem mendadak. Dan itu tidak hanya terjadi sekali, jadi saya kemudian siap siaga pegangan kursi angkot.
Setiap hari ke kantor saya naik angkot. Banyak serba serbi yang bisa dirasakan saat naik angkot ini. Baik senang maupun susah :-D Senangnya, kalau di Jakarta kita bisa banyak temui angkot di mana-mana jadi nggak perlu bingung cari angkutan. Selain itu ongkosnya juga tidak terlalu mahal, sekitar Rp 2.000 - Rp 3.000. Nggak perlu berdiri seperti kalau naik bus yang penuh dan berdesak-desakan.
Tapiiii.....susahnya juga nggak sedikit! Angkot suka ngetem (mangkal) dan berhenti seenaknya, nggak kenal istilah halte, akibatnya ya itu ngerem mendadak dan membuat penumpangnya terpelanting. Tapi terkadang penumpangnya juga yang keliru, minta berhenti mendadak sehingga si supir ngerem mendadak juga. Angkot juga sering melaju seenaknya, memotong jalan dan nyalip-nyalip sekenanya. Yang bikin ngeri, kalau ada pengamen atau peminta-minta di angkot, kadang-kadang suka maksa, nah posisi mobil yang sempit dan pintu penumpang cuma satu jadi bikin tambah parno.
Kejadian yang bikin jengkel banget adalah ketika diturunkan di tengah perjalanan. Saya pernah pulang kantor naik angkot yang biasanya, ehh ternyata cuma diturunkan di terminal Senen yang jaraknya masih jauh dari kos. Lebih parah lagi, ketika beberapa hari lalu saya dan seorang teman naik angkot kemudian diturunkan di perempatan lampu merah yang sedang nggak karuan macet dan lalu lalangnya, di tengah hujan pula. Posisi kantor masih lumayan jauh kalau harus ditempuh dengan jalan kaki (hujan dan nggak bawa payung). Kami kemudian harus nyebrang jalan sambil hujan-hujan dan menunggu taxi yang tak kunjung lewat. Hemmmhh... what a day! Alhasil, teman saya langsung demam, badannya panas. ~~" (semoga lekas sehat yaa....)
Huhuhu...sebel siiihh sebenarnyaaa, tapi bagaimana lagi, masih butuh naik angkot tiap hari untuk sampai kantor. Angkot membantu banyak orang (termasuk saya) dalam hal transportasi umum meskipun masih banyak kekurangannya. Namun, sebagai warga, saya masih sangat berharap transportasi umum di kota ini dan negeri ini semakin baik lagi. Baik kendaraannya, sistemnya, supirnya, jalannya, dan penumpangnya. ^^ Sehingga permasalahan transportasi dan kemacetan bisa ditangulangi dengan lebih baik lagi.
How high our dream should be?
1:59 PM
Each people in the world has desires to be reached and
to be realized. We can call that desires as DREAM. Why should we have dream?
Because dream encourages us to fight and to make our goals come true. Dreaming
can also make the seemingly impossible becomes real.
We usually have a lot of dreams, either small one or big one. For example, desire to have great
academic score, desire to have a new phone, desire to enroll state university,
dream to have a new car, dream to become a celebrity, dream to study abroad,
dream to work in a prestigious company, dream to create a plane, etc.
Many spectacular things created, started from a dream.
Nobody would ever think
that Michael Faraday in 1821 could find a useful thing for human life – electricity. A
sophisticated i-pad would not be able to exist if Steve Job had given up of his
willing on creating an up to date and useful gadget. Indonesia as a third country could
produce an advanced aircraft because of the enormous dream of B.J. Habibie.
Yet, we should be careful with our
ambitions. Sometimes, some people attempt to get all what they want by many
short cut methods which can harm others. This is not correct. We need to walk in
the right way to arrive in our big dreams.
And then,
“How high our dream should be?”
“As high as the sky!”
That sentence is a piece of advice for people to dream
high, without afraid of being failed.
Everyone has right to dream as well as right to do an effort to realize their
wishes. The
final result is determined by God. The more the effort, the bigger the possibility we have.