I Love You, Mom!
9:41 PM
Pagi ini, seorang kawan kehilangan Ibu yang begitu dicintainya. Posisinya sedang jauh dari rumah, dan sulit untuk pulang. Saya kemudian menangis. Memang bukan ibu saya yang meninggal, namun saya tahu bagaimana rasanya sakit yang sedang dirasa. Sedih. Mungkin yang bisa dilakukan saat itu adalah menangis dan menangis, jika itu terjadi pada saya.
Saya teringat Ibu saya. Betapa sering kali saya melukai hatinya dan membuatnya tidak bahagia. Belum banyak yang saya lakukan untuk membuatnya bahagia dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Saya sering kali lupa dan kadang merasa tidak perlu untuk menelponnya, menanyakan kabarnya, dan mengatakan padanya bahwa saya begitu merindukannya. Ketika di rumah, Ibu sering sekali ngomel-ngomel pada kami (saya, mas bayu, adek eya) karena kami menjengkelkannya. Saat mau tidur biasanya Ibu ngomel karena setiap hari saya, mas Bayu, dan Bapak tidur tanpa mematikan televisi sehingga Ibu harus bangun lagi malam-malam mematikan satu-satu TV di 3 kamar yang semuanya menyala. Paginya, saya dan Mas Bayu yang sering dibangunkan karena suka malas-malasan bangun pagi-pagi. Kami sering protes dengan masakan Ibu yang biasanya asin. Kalau makan, masih suka disuapi karena harus buru-buru pergi ke kampus (kalau tidak, biasanya saya akan ngacir begitu saja dan melupakan sarapan hehehe). Saya (dan pasti mas Bayu juga) sangat ingat, ketika Ibu harus berangkat sangat pagi dan pulang agak malam ketika dulu masih berjualan di Pasar. Saya dan Mas Bayu dulu sering menyusul ke pasar, untuk sekedar jajan, menjemput, minta uang, dan membantu Ibu berjualan, sampai akhirnya Ibu berhenti berjualan karena kemudian melahirkan adik Eya pada 30 September 2007 dan adik saya ini membutuhkan perhatian khusus. Masa-masa yang cukup berat bagi kami ketika itu.
Saya sangat menyadari, kebahagiaan dan pencapaian saya sangat dipengaruhi oleh keluarga. Saya selalu berusaha untuk bisa membuat ibu saya bahagia (semoga saja Ibu bahagia ^^). Kalau kata leaders saya di dBCN, orang tua kita bahagia melihat kita bahagia, namun mereka juga punya banyak keinginan dan mimpi yang masih ingin diwujudkan dan kita lah yang bisa membantu orang tua kita mewujudkan impian dan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan :).
Saya sangat menyadari, kebahagiaan dan pencapaian saya sangat dipengaruhi oleh keluarga. Saya selalu berusaha untuk bisa membuat ibu saya bahagia (semoga saja Ibu bahagia ^^). Kalau kata leaders saya di dBCN, orang tua kita bahagia melihat kita bahagia, namun mereka juga punya banyak keinginan dan mimpi yang masih ingin diwujudkan dan kita lah yang bisa membantu orang tua kita mewujudkan impian dan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan :).
Saya sangat bersyukur, masih memiliki Ibu yang sehat, yang masih bisa memperhatikan setiap hari, yang bisa saya telpon ketika rindu, yang bisa dimintai pendapat ketika sedang bimbang, yang bisa dipeluk ketika gundah. Tetapi, tidak setiap anak dan orang tua bisa berkomunikasi dengan lancar dan nyaman. Terkadang kita sebagai anak masing sering "gengsi" untuk berbincang dan kangen-kangenan dengan orang tua. Tidak jarang juga orang tua yang masih merasa "sungkan" untuk menanyakan pada anaknya mengenai kehidupan maupun permasalahan si anak. Contoh simpelnya saja, Ibu dan Bapak saya sering justru bertanya pada saya mengenai kabar kakak saya, kuliahnya, dan beberapa hal lainnya. Mungkin dimaklumi ketika kakak saya sedang jauh, tapi ketika kami semua tinggal satu atap pun begitu pula sering kali.
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, semakin tua, orang tua kita akan semakin merasa sendiri dan pasti menjadi lebih merindukan anak-anaknya. Namun, tidak semua bisa mengungkapkan dan begitu mudahnya bilang ke anak-anaknya. Apalagi jika kondisinya berjauhan, seorang Ibu tidak ingin membebani anaknya yang sedang diperantauan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi Ibunya. Ibu ingin anaknya sehat, bahagia, dan sukses. Tidak setiap Ibu bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Kita sebagai anak, sebaiknya tidak hanya menunggu. Namun kita lah yang harusnya mendekat, mendekatkan hubungan Ibu dan anak menjadi lebih harmonis. Semakin tua, seseorang akan merasa semakin kesepian, merasa ditinggalkan. Sekecil apapun, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat Ibu kita tersenyum bahagia. Hanya sekedar telpon "Ibu, apa kabar?", itu pun akan membuat seorang ibu senang, merasa diperhatikan. Apalagi jika kita bisa memberinya hadiah barang yang begitu diinginkannya atau disukainya. Selagi kita masih bisa menelponnya, memandangnya, memeluknya, dan mewujudkan harapannya ^^.
Hemmm...ambil HP, mari kita telpon Ibu ^^.
I LOVE YOU, MOM....
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, semakin tua, orang tua kita akan semakin merasa sendiri dan pasti menjadi lebih merindukan anak-anaknya. Namun, tidak semua bisa mengungkapkan dan begitu mudahnya bilang ke anak-anaknya. Apalagi jika kondisinya berjauhan, seorang Ibu tidak ingin membebani anaknya yang sedang diperantauan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi Ibunya. Ibu ingin anaknya sehat, bahagia, dan sukses. Tidak setiap Ibu bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Kita sebagai anak, sebaiknya tidak hanya menunggu. Namun kita lah yang harusnya mendekat, mendekatkan hubungan Ibu dan anak menjadi lebih harmonis. Semakin tua, seseorang akan merasa semakin kesepian, merasa ditinggalkan. Sekecil apapun, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat Ibu kita tersenyum bahagia. Hanya sekedar telpon "Ibu, apa kabar?", itu pun akan membuat seorang ibu senang, merasa diperhatikan. Apalagi jika kita bisa memberinya hadiah barang yang begitu diinginkannya atau disukainya. Selagi kita masih bisa menelponnya, memandangnya, memeluknya, dan mewujudkan harapannya ^^.
Hemmm...ambil HP, mari kita telpon Ibu ^^.
I LOVE YOU, MOM....