My Diary.
to Share my Life Events

I Love You, Mom!

Pagi ini, seorang kawan kehilangan Ibu yang begitu dicintainya. Posisinya sedang jauh dari rumah, dan sulit untuk pulang. Saya kemudian menangis. Memang bukan ibu saya yang meninggal, namun saya tahu bagaimana rasanya sakit yang sedang dirasa. Sedih. Mungkin yang bisa dilakukan saat itu adalah menangis dan menangis, jika itu terjadi pada saya. 

Saya teringat Ibu saya. Betapa sering kali saya melukai hatinya dan membuatnya tidak bahagia. Belum banyak yang saya lakukan untuk membuatnya bahagia dan mewujudkan mimpi-mimpinya. Saya sering kali lupa dan kadang merasa tidak perlu untuk menelponnya, menanyakan kabarnya, dan mengatakan padanya bahwa saya begitu merindukannya. Ketika di rumah, Ibu sering sekali ngomel-ngomel pada kami (saya, mas bayu, adek eya) karena kami menjengkelkannya. Saat mau tidur biasanya Ibu ngomel karena setiap hari saya, mas Bayu, dan Bapak tidur tanpa mematikan televisi sehingga Ibu harus bangun lagi malam-malam mematikan satu-satu TV di 3 kamar yang semuanya menyala. Paginya, saya dan Mas Bayu yang sering dibangunkan karena suka malas-malasan bangun pagi-pagi. Kami sering protes dengan masakan Ibu yang biasanya asin. Kalau makan, masih suka disuapi karena harus buru-buru pergi ke kampus (kalau tidak, biasanya saya akan ngacir begitu saja dan melupakan sarapan hehehe). Saya (dan pasti mas Bayu juga) sangat ingat, ketika Ibu harus berangkat sangat pagi dan pulang agak malam ketika dulu masih berjualan di Pasar. Saya dan Mas Bayu dulu sering menyusul ke pasar, untuk sekedar jajan, menjemput, minta uang, dan membantu Ibu berjualan, sampai akhirnya Ibu berhenti berjualan karena kemudian melahirkan adik Eya pada 30 September 2007 dan adik saya ini membutuhkan perhatian khusus. Masa-masa yang cukup berat bagi kami ketika itu. 

Saya sangat menyadari, kebahagiaan dan pencapaian saya sangat dipengaruhi oleh keluarga. Saya selalu berusaha untuk bisa membuat ibu saya bahagia (semoga saja Ibu bahagia ^^). Kalau kata leaders saya di dBCN, orang tua kita bahagia melihat kita bahagia, namun mereka juga punya banyak keinginan dan mimpi yang masih ingin diwujudkan dan kita lah yang bisa membantu orang tua kita mewujudkan impian dan mendapatkan lebih banyak kebahagiaan :). 

Saya sangat bersyukur, masih memiliki Ibu yang sehat, yang masih bisa memperhatikan setiap hari, yang bisa saya telpon ketika rindu, yang bisa dimintai pendapat ketika sedang bimbang, yang bisa dipeluk ketika gundah. Tetapi, tidak setiap anak dan orang tua bisa berkomunikasi dengan lancar dan nyaman. Terkadang kita sebagai anak masing sering "gengsi" untuk berbincang dan kangen-kangenan dengan orang tua. Tidak jarang juga orang tua yang masih merasa "sungkan" untuk menanyakan pada anaknya mengenai kehidupan maupun permasalahan si anak. Contoh simpelnya saja, Ibu dan Bapak saya sering justru bertanya pada saya mengenai kabar kakak saya, kuliahnya, dan beberapa hal lainnya. Mungkin dimaklumi ketika kakak saya sedang jauh, tapi ketika kami semua tinggal satu atap pun begitu pula sering kali. 

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman, semakin tua, orang tua kita akan semakin merasa sendiri dan pasti menjadi lebih merindukan anak-anaknya. Namun, tidak semua bisa mengungkapkan dan begitu mudahnya bilang ke anak-anaknya. Apalagi jika kondisinya berjauhan, seorang Ibu tidak ingin membebani anaknya yang sedang diperantauan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi Ibunya. Ibu ingin anaknya sehat, bahagia, dan sukses. Tidak setiap Ibu bisa menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Kita sebagai anak, sebaiknya tidak hanya menunggu. Namun kita lah yang harusnya mendekat, mendekatkan hubungan Ibu dan anak menjadi lebih harmonis. Semakin tua, seseorang akan merasa semakin kesepian, merasa ditinggalkan. Sekecil apapun, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuat Ibu kita tersenyum bahagia. Hanya sekedar telpon "Ibu, apa kabar?", itu pun akan membuat seorang ibu senang, merasa diperhatikan. Apalagi jika kita bisa memberinya hadiah barang yang begitu diinginkannya atau disukainya. Selagi kita masih bisa menelponnya, memandangnya, memeluknya, dan mewujudkan harapannya ^^. 

Hemmm...ambil HP, mari kita telpon Ibu ^^. 
I LOVE YOU, MOM....


  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Manusia Setengah Salmon

Saya baru selesai membaca bukunya Raditya Dika "Manusia Setengah Salmon". Sebelumnya kurang tertarik untuk meluangkan waktu membaca buku ini, apalagi membelinya, namun tidak sengaja ketika sedang "ngadem" di Gramedia saya melihat buku ini dan teringat teman saya yang cerita bahwa dia sampai bisa tertawa terbahak-bahak membaca buku ini. Penasaran, akhirnya saya masukkan buku ini dalam alokasi belanja saya hari itu. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa "melalap" habis 258 halaman yang ada, sangat jauh lebih cepat daripada progres membaca buku latihan bahasa inggris yang sedang saya pelajari hehe....

Ngakak-ngakak beneran baca bab-bab awal buku ini, namun saya tertarik di bab terakhir "manusia setengah salmon". Intinya, hidup ini merupakan potongan-potongan antara perpindahan satu dengan lainnya dan kita hidup diantaranya. Untuk mencapai suatu pencapaian yang lebih, kita tidak bisa hanya bertahan di satu tempat yang sama. Seperti ikan salmon yang setiap tahunnya harus bermigrasi ber mil-mil jaraknya dan melawan arus untuk bertelur. Saya jadi ingat, seorang teman dulu pernah menyampaikan hal serupa  untuk menyemangati saya ketika saya masih awal-awal tiba di Jakarta (waktu itu kami sama-sama belum pernah membaca buku ini). 

Saya sangat merasakan mengalami berbagai perpindahan dalam hidup, dan pasti demikian pula dengan kalian. Perpindahan dari masa kanak-kanak ke remaja lalu dewasa, perpindahan sekolah, perpindahan cita-cita dan impian, perpindahan hati, perpindahan status, perpindahan pekerjaan, perpindahan selera, dll. Dalam berpindah, tidak selamanya semua mudah dan menyenangkan, namun juga tidak selalu menyedihkan. Saat ini, saya menyadari bahwa saya sudah semakin berpindah jauh dari masa lampau. Dulu gadis kecil dari desa kecil yang setiap hari ke sekolah naik sepeda, main lumpur, main dengan kaos oblong dan celana pendek, bandel... sekarang, saya sudah menjadi wanita berusia seperempat abad, sudah selesai sekolah, sudah mampu bepergian jauh seorang diri, dan memiliki pandangan-pandangan yang sudah sangat jauh berbeda dari masa lalu.... Hemm... begitu cepat rasanya waktu berlalu (kalimat klasik yang sering kali terlontar). Sudah banyak teman-teman yang tak sama seperti dulu lagi, sudah banyak yang menikah dan meiliki anak, dan banyak yang merantau. Dan insyaAllah saya pun akan melalui fase perpindahan itu. Perpindahan yang terkadang membuat cemas dan was-was. 

Demikian pula perpindahan saya ke ibukota, sangat tidak direncanakan dan diduga sebelumnya. Dengan bermodal yakin, saya meninggalkan Jogja yang begitu nyaman dan familiar karena sejak lahir saya belum pernah merantau dari sana. Dan kini saya di sini, bermigrasi (urbanisasi tepatnya), dan mendapatkan banyak hal yang tak terduga sebelumnya. 

Perpindahan marital status juga merupakan suatu tantangan besar tersendiri. Seorang kawan pernah bilang bahwa pernikahan itu seperti promosi jabatan, naik level. Level yang lebih tinggi dengan kenikmatan dan tanggung jawab yang sesuai dengan level tersebut. Jika boleh jujur, saya terkadang mencemaskan "kenaikan jabatan" ini. Namun, seorang kawan lain yang telah lebih dulu mengalami perpindahan ini mengatakan, kehidupan ini seperti perjalanan...kadang mulus, kadang berkelok-kelok, naik turun, jalanan terjal... kita harus bersyukur untuk semuanya, menikmati perjalanan yang ada, mengatasi batu sandungan yang menghalangi jalan, dan tetap berdoa dan bersyukur. Saya menikmati perpindahan ini...dan suatu hari nanti saya pun harus bermigrasi lagi, melawan arus yang lebih deras lagi, menghadapi ancaman "pemangsa" yang begitu buas, menghadapi kelelahan dan rintangan, demi mendapatkan pencapaian yang lebih besar lagi... Sama halnya juga seperti perjalanan ikan salmon untuk bertelur.... 


  •  
  •  
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Lebaran di Cageran


Tulisan ini sebenarnya sudah harus saya publish dua minggu yang lalu, akan tetapi dikarenakan beberapa kendala Alhamdulillah tetap bisa publish, demi laporan pada kawan saya yang sedang berada di belahan benua yang lain :)

Lebaran kali ini cukup istimewa bagi saya. Sebenarnya rutinitas yang dilakukan pada saat lebaran hampir sama setiap tahun, namun yang membuat berbeda adalah saya merasakan sensasi mudik kali ini :) Tiket kereta pun sudah dibeli 3 bulan sebelumnya. Selain itu, saya pasti akan sangat merindukan kebiasaan ini suatu ketika saya pergi nanti entah merantau ke mana lagi, seperti yang dirasakan sahabat saya Nungky yang tahun ini terbang ke UK. 


1. Takbiran
Sayang sekali saya melewatkan waktu takbiran kali ini, karena saya belum sampai rumah saat adik-adik TPA dan kawan-kawan OPC takbir keliling :( Saya masih di jalan dari buka bersama dan membeli beberapa kebutuhan di kota. Suara takbir yang menggema dari berbagai penjuru terdengar sepanjang malam. Jadilah malam itu saya membantu ibu saya membereskan rumah sambil mendengarkan sahutan takbir yang membahana ^^.
2. Sholat Idul Fitri
 Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami sholat Idul Fitri di tanah lapang depan masjid At-Taqwa dusun Catur Harjo (kurang lebih 500 m dari dusun kami, Cageran). Dan rasanya baru kali ini saya datang begitu pagi ^^ biasanya duduk di belakang karena telat hehehe... Kebetulan kali ini pemuda Cageran yang bertugas sebagai panitia. MC nya mas Tomi, lalu teman-teman (termasuk saya) bertugas membantu menghitung jumlah jamaah dan mengedarkan kantong infaq.  Setelah selesai sholat dan mendengarkan ceramah serta pengumuman, kami pun beranjak meninggalkan lapangan sambil bersalam-salaman hangat pada orang-orang yang ditemui. ^^
Sholat Idul Fitri


3. Silaturahmi dan Ujung Bareng 
Selain silaturahmi ke saudara-saudara, banyak pula yang datang ke rumah saya untuk silaturahmi, apalagi ada simbah saya yang sudah sepuh di rumah. Organisasi Pemuda Cageran (OPC) juga menjalankan agenda rutinnya, "ujung bareng", yaitu silaturahmi ke semua rumah warga Cageran bersama-sama seluruh anggota OPC. Saya sebenarnya sangat menantikan momen ini. Meskipun melelahkan secara fisik karena harus keliling dari rumah ke rumah, tapi rasanya menyenangkan ^^ bisa kumpul bareng teman-teman OPC, bercanda, bisa lebih akrab dan bergaul dengan warga pula.... :) Pasti akan sangat saya rindukan, dan saya yakin beberapa teman OPC saya yang telah merantau maupun mengikuti suaminya merindukan hal ini pula. Setiap tahun selalu ada yang berubah, baik tambah anggota baru, maupun berkurangnya anggota lama...regenerasi :)

Eya dan simbah
Salam-salaman OPC
Silaturahmi di rumah Bapak Naim Hidayat





4. Halal bi Halal
Seitap RT di dusun Cageran membuat acara syawalan dan halal bi halal sendiri, selain itu satu masing-masing RW juga mengadakan. RT tempat tinggal saya yaitu RT 05 mengadakan acara halal bi halal pada 3 syawal di rumah saya. Sedangkan RW 01, dilakukan pada tanggal 5 syawal di halaman rumah Mbah Ginul dan Mas Giyanto RT 04. 
Halal bi Halal RW 01
Halal bi halal RT 05
Banyak hal terasa begitu sangat berharga ketika jauh dan tak lagi melakukan kebiasaan yang ada. Terima kasih untuk seluruh teman-teman OPC, semoga semakin maju dan mampu membawa anggotanya menjadi pribadi yang bermanfaat dan cerdas ^^ Terima kasih pula untuk dusunku yang kucinta :) Semoga masih bisa merasakan suasana ini lagi lain waktu ^^








Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs