My Diary.
to Share my Life Events

Sepasang Baju Lama vs Tumpukan Baju di Almari


Setiap akan bepergian maupun sebelum mandi, saya selalu menghabiskan beberapa menit untuk sekedar melihat tumpukan baju di almari pakaian seraya berpikir "mau pakai baju apa ya hari ini?". Keluarga saya akan meledek saya jika terlalu lama melakukannya, mereka bilang bahwa waktu saya banyak terbuang hanya untuk memilih baju mana yang akan dipakai.
Saya sering bosan, dan berpikir sepertinya hanya baju "itu-itu" saja yang saya pakai. Padahal, meskipun tidak terlalu banyak baju yang menumpuk di almari saya, tetapi tidak terlalu sedikit pula. Selalu saja masih tergoda untuk selalu menambah dan menambah lagi, sampai almarinya pun harus diganti yang lebih besar.

Suatu hari, ada seorang tetangga yang datang ke rumah saya tepat ketika saya sedang berada di depan almari pakaian dan bingung menentukan baju apa yang akan saya kenakan hari itu. Orang itu, yang tadinya datang untuk keperluan lain, kemudian menceritakan tentang anaknya yang sudah mulai tumbuh remaja dan memerlukan baju yang lebih besar. Saya tahu kondisi keluarga tersebut sedang dalam posisi kesulitan perekonomian. Dia berkata bila saya memiliki baju-baju yang tidak saya pakai lagi bisakah saya berikan pada anaknya tersebut.

Saya tersentuh, betapa kurang bersyukurnya saya yang sering merasa kekurangan pakaian padahal punya saya di almari cukup banyak. Lalu saya berikan sepasang pakaian pada orang tersebut untuk anaknya. Betapa girangnya si anak memiliki baju "baru" tersebut dan seringkali dipakainya.

Sepasang baju saya yang telah lama tidak saya pakai dan berada di tumpukan paling bawah diantara baju-baju di almari, ternyata memberikan kebahagiaan dan manfaat bagi orang lain. Saya percaya, bahwa jika saya mengurangi isi almari dan memberikan pada orang lain yang mebutuhkan, suatu saat Tuhan akan memberikan rejeki untuk mengganti isi almari tersebut dengan baju lain yang lebih baik.
Lagi pula, daripada baju-baju tersebut hanya menumpuk dan tak terpakai padahal kondisinya masih baik, bisa jadi lebih bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan :-)

Ryu_2011 

Riyuni Asih Riyuni Asih Author

surat pun mengukirkan kisah

Sudah tidak jaman lagi saat ini berkomunikasi melalui surat menyurat, apalagi dikirim melalui pos (kecuali surat-surat lamaran kerja, aplikasi beasiswa, dll). Saat ini media komunikasi semakin canggih, dan terus terang saya sangat bersyukur akan hal tersebut :-). Banyak hal menjadi lebih cepat, tepat, menarik, dan modern. Biayanya pun semakin terjangkau. Berkomunikasi dengan orang yang berjarak ribuan kilometer dan dipisahkan samudera pun sudah sangat mudah. Ada telepon, email, messenger, jejaring sosial yang kian banyak, dll. 


Surat menyurat dengan tulisan tangan saat ini sudah banyak yang tidak banyak dilakukan lagi, baik itu terhadap keluarga, kawan, maupun kekasih. Ya, karena hal tersebut sudah sangat tidak praktis. Namun, diantara kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, surat bisa menjadi sesuatu yang spesial. Apalagi bila surat tersebut disampaikan melalui kurir atau jasa pos.



Banyak rasa yang terjadi diantara indahnya surat menyurat. Rasa penasaran ketika membuka kotak surat di depan rumah, bahagia bila mendapatkan surat dari sahabat ataupun kekasih, sedih bila tak kunjung tiba surat yang dijanjikan, mengumpulkan perangko yang tertempel pada amplop surat, mengeja tulisan-tulisan yang tak jelas, bahagia atas kabar gembira dan sedih atas kabar duka... 

Mungkin memang klasik, tapi surat dapat juga mewakili seseorang dalam mengungkapkan perasaan yang sulit untuk dikatakan. Suatu saat nanti surat-surat itu ku baca lagi, seakan waktu pun akan berputar ke masa ini... ^^ 


Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Banjir Lahar Dingin Menghanyutkan Sapi dan Menimbun Rumah Warga

Semalam, terjadi banjir lahar dingin di sepanjang aliran kali gendol yang berlanjut ke kali Opak. Pertama kali tahu kalau keadaan cukup mengkhawatirkan ketika ada pengumuman dari speaker masjid yang meminta anggota kelompok kandang Anggrek Mukti Cageran untuk segera ke kandang karena kandang dusun Catur (sebelah utara Cageran) telah kemasukan air dan ternaknya ada yang hanyut terbawa banjir. Kemudian saya bersama mas Bayu dan Bapak bergegas ke kandang yang letaknya di sebelah barat dusun dan tidak jauh dari kali Opak, untuk melihat situasi.

Di sebelah barat dusun kami ternyata sudah ramai orang yang ingin melihat keadaan. Suara gemuruh air jelas sekali terdengar, bau belerang pun semakin terasa. Karena malam hari membuat suasana menjadi agak menegangkan dan sulit melihat sekitar. Saya dan Bapak memutuskan untuk melihat kondisi di utara dusun. Ternyata aliran air menyimpang dari jalur kali, sehingga melalui sawah dan perkampungan dusun Ngerdi. Malam itu tim SAR berusaha menyelamatkan warga yang terjebak di tengah dusun. Dusun Ngerdi berada di tengah dua aliran kali yang keduanya menjadi jalur lahar dingin, sehingga sangat rawan terkena banjir. Beberapa puluh tahun lalu bahkan dusun ini sudah pernah habis terendam pasir lahar dingin dan membuat warganya bedol desa ke daerah lain. Dan kali ini juga, rumah-rumah sudah kemasukan pasir dan memaksa warganya untuk beranjak dari rumah mereka. 

Paginya ketika kami tinjau ulang, pasir terhampar di bekas persawahan dan di tengah kampung. Rumah-rumah sudah tak layak huni lagi, belum lagi dibayangi banjir yang kemungkinan besar akan datang lagi. Pagi ini mereka mengevakuasi barang-barang yang masih bisa diselamatkan dan juga ternak-ternaknya. Miris sekali melihatnya. Jalur kali yang ada ditepi dusun ini bahkan sudah tertutup pasir, dan aliran air berpindah ke persawahan dan tengah kampung. 


Arus air juga menggasak kandang sapi milik kelompok peternak dusun Caturharjo (dusun ini tepat di sebelah utara dusun yang saya tinggali). Air mengalir di kandang yang berlokasi tepat di sisi kali opak. Sapi-sapi dievakuasi, namun ada satu sapi yang hanyut terbawa arus sampai beberapa km dan ditemukan selamat keesokan harinya.

Kekhawatiran belum berakhir sampai pagi ini, karena masih besar kemungkinan akan datang lagi banjir yang lebih besar. Semoga saja air yang datang mengalir sesuai jalurnya, sehingga tidak melalui dusun-dusun lain di bantaran kali. Semoga saudara-saudara yang tertimpa musibah diberikan kesabaran... Amin.

Riyuni Asih Riyuni Asih Author

PRAKTIKUM S2 ILMU TERNAK PERAH DI TROPIK 2011



Laboratorium Ilmu Ternak Perah dan Industri Persusuan
Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada
2011

INFO PRAKTIKUM S2
ILMU TERNAK PERAH DI TROPIK

Pengumuman Praktikum Ilmu Ternak Perah di Tropik
1.       Jadwal pelaksanaan praktikum
Acara
Hari, Tanggal
Waktu
Lokasi
Tingkah Laku Sapi Perah di Siang Hari
Jumat, 29 April 2011
06.00 – 18.00 WIB
UPT Ternak Perah Fapet UGM
Tingkah Laku Sapi Perah di Malam Hari
Sabtu, 30 April 2011
18.00 – 06.00
UPT Ternak Perah Fapet UGM
Pengamatan Sapi Perah di Turgo (high land)
Jumat, 6 Mei 2011
Info menyusul
Turgo
Analisis susu
Sabtu, 7 Mei 2011
Info menyusul
Lab. ITPIP lt.2


2.       Perlengkapan yang harus di bawa
a.       Alat tulis
b.      Cattle pack (baju kandang)
c.       Sepatu boot (sepatu kandang)
d.      Kamera
e.      Alat ibadah (bila diperlukan)
f.        Jas praktikum (untuk praktikum di lab)
g.       Makanan/minuman

3.       Ketentuan lain
-          Praktikan diharapkan hadir maksimal 15 menit sebelum acara dimulai
-          Contact Person: 085643295995 (Yuyun)
Yogyakarta, 26 April 2011



Riyuni Asih Riyuni Asih Author

wanita dan pria itu berbeda

Perbedaan antara pria dan wanita itu tidak hanya pada bentuk fisik saja, namun banyak sisi psikologis mendasar yang berbeda. Secara fisik, sudah jelas terlihat berbeda pada beberapa bagian, jenis kulit wanita jauh lebih lembut, postur tubuh pria lebih kekar, alat reproduksinya pun sangat berbeda, hormon yang mempengaruhi beberapa kegiatan tubuh berbeda, dan masih banyak lagi. Tuhan telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan, meskipun terkadang sulit sekali menyatukan perbedaan tetapi ketika bisa saling melengkapi dan menghormati jadi indah sekali :-)
Riyuni Asih Riyuni Asih Author

Instagram @riyuniasih

Riyuni's Facebook

Popular Posts

Translate

Total Pageviews

NetworkBlogs